Jakarta (Lampost.co) — Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Mantan Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras terkait pembukaan Selat Hormuz. Namun, Iran justru merespons dengan sindiran tajam dan menyebut ancaman tersebut sebagai tindakan tidak rasional.
Trump Beri Tenggat 48 Jam ke Iran
Donald Trump menyampaikan ultimatum melalui platform media sosial miliknya, Truth Social. Ia meminta Iran segera membuka Selat Hormuz tanpa syarat.
“Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz. Waktu hampir habis, 48 jam sebelum semua neraka akan menimpa mereka,” tulis Trump.
Sebelumnya, pada 21 Maret, Trump juga mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran. Ia menyasar fasilitas terbesar jika Iran tidak mematuhi tuntutan tersebut. Namun, beberapa hari setelah ancaman itu, Trump sempat melunak.
Ia menyebut adanya pembicaraan yang produktif dengan pihak Iran. Meski begitu, tenggat waktu kembali diperpanjang hingga batas akhir terbaru.
Iran Sebut Ancaman Bodoh
Pihak Iran tidak tinggal diam. Komando militer pusat Iran langsung merespons dengan nada keras.
Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi menyebut pernyataan Trump sebagai tindakan yang tidak seimbang. “Ancaman itu menunjukkan sikap tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pernyataan religius Trump. Menurutnya, pesan tersebut justru menjadi ancaman balik bagi pihak Amerika. “Makna sederhana dari pesan itu adalah pintu neraka akan terbuka untuk Anda,” ujarnya.
Ancaman Serangan Infrastruktur Meningkat
Ketegangan meningkat setelah Trump kembali melontarkan ancaman militer. Ia menyebut AS siap menghancurkan infrastruktur penting Iran. “Militer kita belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran,” kata Trump.
Ia bahkan menyebut target berikutnya termasuk jembatan dan pembangkit listrik. Trump juga mendorong pergantian rezim di Iran. Ia menilai kepemimpinan baru harus segera mengambil alih. “Kepemimpinan baru akan tahu apa yang harus dilakukan dan harus dilakukan cepat,” katanya.
Serangan Infrastruktur dan Eskalasi Konflik
Situasi semakin panas setelah laporan serangan terhadap jembatan strategis di Karaj. Infrastruktur tersebut sebagai salah satu yang tertinggi di kawasan Timur Tengah.
Trump mengklaim serangan itu sebagai bagian dari tekanan militer terhadap Iran. Ia juga mengunggah video yang memperlihatkan asap tebal dari lokasi kejadian. “Jembatan terbesar di Iran runtuh, dan banyak lagi akan menyusul,” tulisnya.
Ia kembali menegaskan Iran harus segera bernegosiasi sebelum kondisi semakin memburuk.
Dampak Global dan Risiko Besar
Para analis menilai ancaman terhadap infrastruktur sipil dapat memicu konsekuensi serius. Bahkan, tindakan tersebut berpotensi dikategorikan sebagai pelanggaran hukum internasional.
Selain itu, Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Gangguan di wilayah itu dapat memicu krisis global, termasuk lonjakan harga minyak.
Ketegangan yang terus meningkat membuat dunia internasional waspada. Banyak pihak mendesak kedua negara untuk menahan diri dan kembali ke meja diplomasi.








