Jakarta (Lampost.co)— Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mencatat telah merawat 10 pasien terkonfirmasi super flu sepanjang tahun 2025.
Super flu adalah infeksi virus influenza A (H3N2) subclade K, yang belakangan menjadi perhatian publik karena gejalanya dinilai lebih berat dari pada influenza musiman biasa.
Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung, Iwan Abdul Rachman, menegaskan masyarakat tidak perlu panik menyikapi berkembangnya isu super flu.
Baca juga: Kemenkes Tegaskan Super Flu H3N2 Subclade K Terkendali
Menurutnya, meskipun gejala yang timbulkan relatif lebih berat, virus tersebut tidak berbeda secara signifikan dari influenza pada umumnya.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, tetapi tidak panik. Virus influenza A (H3N2) subclade K ini pada dasarnya masih influenza, hanya gejalanya bisa lebih berat,” ujar Iwan, Kamis (8/1).
Prosedur Penanganan Sudah Siap
Sebagai rumah sakit rujukan utama di Jawa Barat, RSHS telah menyiapkan prosedur pelayanan dan tata laksana khusus bagi pasien dengan penyakit menular melalui droplet.
Protokol tersebut merupakan pengembangan dari sistem yang telah diterapkan sejak pandemi Covid-19.
Iwan menjelaskan, pola penularan super flu mirip dengan Covid-19, yaitu melalui percikan droplet.Sehingga standar pengendalian infeksi sudah tersedia dan berjalan.
“Super flu termasuk penyakit dengan penularan droplet. RSHS sudah memiliki tata laksana yang jelas, baik untuk pasien yang datang ke IGD maupun rawat inap,” jelasnya.
Masyarakat yang mengalami gejala flu berat. Seperti demam tinggi, sesak napas, atau kondisi yang tidak membaik, diimbau untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan medis sedini mungkin.
Tren Kasus Mulai Menurun
RSHS juga mencatat bahwa tren penularan influenza A (H3N2) subclade K mulai menunjukkan penurunan. Baik di lingkungan rumah sakit maupun secara umum di wilayah Jawa Barat. Penurunan ini terjadi jika membandingkan dengan periode awal penyebaran virus pada 2025.
Satu Pasien Meninggal, Mayoritas Kasus Rentan
Ketua Tim Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging (Pinere) RSHS Bandung, Yovita Hartantri, mengungkapkan dari 10 pasien super flu yang dirawat, satu orang meninggal dunia. Pasien tersebut di ketahui memiliki penyakit penyerta (komorbid) yang memperberat kondisi klinisnya.
“Dari 10 kasus, satu pasien meninggal karena memiliki penyakit bawaan. Selain itu, dua pasien merupakan bayi dan anak-anak,” kata Yovita.
Ia menambahkan, kepastian mengenai jenis virus super flu tersebut di peroleh setelah pemeriksaan laboratorium oleh Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan pada awal Januari 2026.
Puncak Kasus Terjadi Oktober 2025
Berdasarkan catatan RSHS, puncak kasus influenza, termasuk super flu, terjadi pada Oktober 2025. Sejak saat itu, jumlah pasien yang mendapat perawatan akibat influenza menunjukkan tren penurunan secara bertahap.
Pihak RSHS kembali mengingatkan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, penggunaan masker saat sakit. Serta kewaspadaan khusus bagi kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan penderita penyakit kronis guna menekan risiko penularan dan komplikasi super flu.








