Goengan bikin batuk? Ini penjelasan medisnya.
Bandar Lampung (lampost.co)– Gorengan adalah camilan populer yang akrab di lidah masyarakat Indonesia. Rasanya gurih dan nikmat, apalagi saat masih hangat. Namun, di balik kelezatannya, gorengan kerap dituduh sebagai pemicu batuk karena menimbulkan rasa gatal di tenggorokan.
Benarkah gorengan bisa menyebabkan gangguan kesehatan berupa batuk, atau hanya mitos? Meski sering jadi kambing hitam, gorengan sejatinya bukan penyebab langsung batuk.
Menurut keterangan dari laman Alodokter, batuk adalah respons alami tubuh untuk membersihkan saluran napas dari benda asing, lendir, atau kuman. Artinya, batuk merupakan gejala, bukan penyakit utama, dan bisa terpicu oleh berbagai hal seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), alergi, asma, hingga refluks asam lambung (GERD).
Namun, bukan berarti gorengan tidak memiliki kontribusi terhadap timbulnya batuk. Konsumsi gorengan yang berlebihan, terutama saat tubuh dalam kondisi kurang fit, dapat memicu iritasi pada tenggorokan.
Makanan panas dan berminyak seperti gorengan bisa menyebabkan peradangan ringan pada lapisan saluran napas, yang kemudian menimbulkan sensasi gatal di tenggorokan dan memicu refleks batuk. Salah satu penyebab utama dari iritasi tersebut adalah penggunaan minyak jelantah. Yakni minyak yang telah digunakan berulang kali.
Dalam proses pemanasan berulang, minyak jenis ini dapat menghasilkan senyawa berbahaya seperti aldehida dan akrolein. Kedua senyawa ini diketahui dapat mengiritasi saluran pernapasan dan tenggorokan, sehingga meningkatkan risiko batuk, terutama pada individu yang sensitif atau memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Selain minyak jelantah, pemicu lainnya berasal dari bahan pelengkap gorengan, seperti sambal atau cabai. Kandungan capsaicin dalam cabai yang berlebihan bisa memicu sensasi panas di tenggorokan dan memperparah gejala batuk. Capsaicin adalah senyawa aktif yang memberikan rasa pedas dan dapat merangsang ujung saraf di tenggorokan.
Kendati demikian, bukan berarti setiap orang yang makan gorengan akan langsung batuk. Respons tubuh berbeda-beda tergantung pada kondisi kesehatan masing-masing. Orang dengan daya tahan tubuh yang prima mungkin tidak merasakan gejala apa pun, sementara mereka yang sedang flu atau memiliki gangguan lambung bisa mengalami batuk sesaat setelah mengonsumsi gorengan dalam jumlah banyak.
Ahli kesehatan juga menyarankan agar masyarakat lebih bijak dalam mengonsumsi gorengan. Jika ingin tetap menikmatinya, lebih baik mengurangi frekuensi konsumsi, menggunakan minyak baru saat menggoreng. Serta menghindari bahan pelengkap yang terlalu pedas atau asam.
Pilihan pengolahan makanan lain seperti dipanggang atau ditumis juga dapat menjadi alternatif yang lebih sehat.
Di samping itu, penting juga memperhatikan kondisi tubuh saat akan makan gorengan. Bila sedang mengalami radang tenggorokan, flu, atau batuk, sebaiknya hindari dulu konsumsi makanan berminyak agar tidak memperburuk gejala.
Gorengan memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan sebagai penyebab utama batuk. Namun, cara pengolahan, jenis minyak yang digunakan, dan kondisi kesehatan tubuh sangat berpengaruh dalam menimbulkan reaksi tertentu setelah mengonsumsinya.
Oleh karena itu, mengonsumsi gorengan dengan porsi dan frekuensi yang wajar, serta memperhatikan kualitas bahan dan minyak, tetap menjadi langkah bijak untuk menjaga kesehatan saluran pernapasan.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update