Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi mengklaim 2.385 dari 2.446 desa di Lampung atau 97,5% menerapkan program desa cerdas atau smart village pada 2023.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, dan Transmigrasi (PMDT) Lampung, Zaidirina, mengatakan smart village memanfaatkan internet of things (IoT).
“Sistem itu untuk penyelenggaraan pembangunan,” ujar Zaidirina, Senin, 19 Agustus 2024.
BACA JUGA: Warga Antusias Belanja di Pasar Murah Desa Pasuruhan
Menurut dia, penerapan smart village akan membuat desa di Lampung dapat mewujudkan smart governance atau tata kelola dan pelayanan publik cerdas.
Kemudian smart economy dengan menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Hal itu dengan bergeraknya pemberdayaan UMKM, Koperasi, dan BumDes.
“Lalu smart people yang mewujudkan masyarakat untuk terbiasa menggunakan teknologi secara aktif dalam pembangunan desa,” kata dia.
Pihaknya menargetkan smart village di Lampung dapat terimplementasi 100 persen pada 2024. Sebab, penerapan itu mampu meningkatkan kelas desa.
Dia menambahkan, Pemprov turut meningkatkan jumlah desa dengan kategori maju dan mandiri menjadi 1.531 dari total 2.446 desa atau setara 63 persen selama 2024.
Meski begitu, masih terdapat empat desa di dengan status desa tertinggal. Hal itu karena letak geografis menjadi kendala dalam peningkatan kelas desa.
“Desa tertinggal karena berada di kawasan hutan konservasi. Sehingga untuk pengentasannya perlu intervensi lintas sektoral pemerintah pusat,” kata dia.