Bandar Lampung (Lampost.co)—Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Lampung, Zulkarnain, meminta seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kemenag untuk terus adaptif terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, sikap adaptif menjadi kunci agar Kementerian Agama tetap relevan dan mampu menghadirkan pencerahan bagi masyarakat. Apalagi kini di tengah perubahan global yang sangat cepat.
Poin penting:
- ASN Kemenag dituntut adaptif dan inovatif agar tetap relevan di era kecerdasan buatan dan VUCA.
- Kemenag diharapkan mengisi ruang AI dan digital dengan nilai keagamaan yang moderat, sejuk, dan mencerahkan.
- Transformasi ASN menjadi pribadi yang agile, responsif, dan berintegritas menjadi kunci pelayanan umat di masa depan.
Zulkarnain menyampaikan hal tersebut saat membacakan sambutan Menteri Agama dalam upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama di Kantor Kanwil Kemenag Lampung, Sabtu (3/1/2026). Ia menekankan tantangan zaman saat ini menuntut ASN Kemenag tidak hanya bekerja secara administratif, tetapi juga visioner dan inovatif.
Dalam sambutannya, Zulkarnain mengajak seluruh ASN menengok kembali sejarah peradaban Islam, khususnya keberadaan Baitul Hikmah pada abad pertengahan. Ia menjelaskan Baitul Hikmah bukan sekadar perpustakaan. Melainkan pusat riset dan penerjemahan besar yang menjadikan agama dan ilmu pengetahuan sebagai pilar utama kemajuan peradaban manusia.
Baca juga: Restrukturisasi Kelembagaan Perkuat Layanan Publik Kemenag Lampung
“Agama pernah menjadi sumber pencerahan dunia yang luar biasa. Di Baitul Hikmah, nilai-nilai keagamaan berpadu dengan rasionalitas dan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan kehidupan,” ujarnya.
Menurut Zulkarnain, semangat tersebut relevan untuk kembali hidup di era modern. Saat ini, umat manusia menghadapi tantangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta situasi global yang terkenal dengan istilah VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity). Perubahan yang cepat, tidak pasti, dan kompleks menuntut kesiapan mental serta kapasitas sumber daya manusia yang unggul.
“Di era ini kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus memiliki kedaulatan AI,” ujarnya.
Ia menilai sebagaimana ulama dan cendekiawan dahulu mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan, ASN Kementerian Agama saat ini memiliki tanggung jawab besar untuk mengisi ruang-ruang digital dan kecerdasan buatan dengan konten keagamaan yang otoritatif, moderat, sejuk, dan mencerahkan.
Zulkarnain mengingatkan pentingnya memastikan perkembangan teknologi tidak lepas dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Menurutnya, AI harus kita kawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan umat, bukan justru memicu disinformasi dan perpecahan di tengah masyarakat.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menegaskan setiap ASN Kemenag harus bertransformasi menjadi pribadi yang lincah (agile), terbuka terhadap teknologi dan inovasi, serta sigap dalam melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas.
“Nilai-nilai ini sejatinya adalah warisan luhur tradisi keagamaan yang harus kita aktualkan kembali sesuai dengan konteks zaman,” ujarnya.








