Dampak Kenaikan Harga Bahan Pokok, UMKM Keluhkan Penurunan Omzet

Di Pasar Way Dadi, Sukarame, para pedagang dan pelaku usaha kuliner mulai mengeluhkan penurunan omset yang cukup signifikan.

Editor Nur
Jumat, 10 April 2026 17.20 WIB
Dampak Kenaikan Harga Bahan Pokok, UMKM Keluhkan Penurunan Omzet
Di Pasar Way Dadi, Sukarame, para pedagang dan pelaku usaha kuliner mulai mengeluhkan penurunan omset yang cukup signifikan.Lampost.co/Fauzan Aljabar.

Bandar Lampung(Lampost.co)— Melambungnya harga sejumlah bahan kebutuhan pokok di pasar tradisional dalam beberapa pekan terakhir mulai memukul sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Di Pasar Way Dadi, Sukarame, para pedagang dan pelaku usaha kuliner mulai mengeluhkan penurunan omset yang cukup signifikan.

Berdasarkan pantauan di lapangan Jumat 10 April 2026, kenaikan harga terjadi pada komoditas penting seperti Beras, minyak goreng, hingga telur ayam.

Kondisi ini membuat daya beli masyarakat menurun, yang berdampak langsung pada pendapatan harian para pedagang dan membuat beberapa peragang gulung tikar.

Baca juga: Lapangan Pemda Kalianda Jadi Pusat Jajanan Kuliner Kaki Lima Favorit Warga

Bagi pelaku UMKM makanan matang, kenaikan harga bahan baku menjadi dilema yang sulit dipecahkan. Siti (42). Seorang pedagang nasi uduk di sekitar Pasar Way Dadi, mengaku harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan.

“Semua naik, terutama cabai dan minyak. Mau naikkan harga seporsi nasi, takut pembeli lari. Akhirnya, saya terpaksa mengurangi porsi sedikit atau mengurangi keuntungan. Sekarang omset turun sekitar 30% dibanding bulan lalu,” keluh Siti pada Jumat (10/04/2026).

Dampak Kenaikan Harga di Pasar Tradisional

Tidak hanya pedagang makanan, pedagang sembako pun merasakan dampak serupa. Penurunan jumlah kunjungan warga ke pasar mulai terasa sejak awal pekan. Masyarakat cenderung membatasi pembelian dan hanya fokus pada kebutuhan yang paling mendesak.

Budi(52) salah satu pedagang Sembako di Pasar Way Dadi, menyebutkan bahwa stok barang dagangannya seringkali tidak terjual dalam sehari.

“Biasanya barang muter nya cepet dalem sehari sekarang susah, Orang-orang kalau belanja sekarang nawar nya kira-kira belinya juga cuma sedikit-sedikit,” ungkapnya.

Para pelaku UMKM berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat segera melakukan operasi pasar. Atau intervensi harga guna menstabilkan kondisi pasar.

Mereka khawatir jika tren kenaikan ini berlanjut hingga bulan depan, banyak pelaku usaha kecil yang terancam gulung tikar karena biaya operasional yang tidak sebanding dengan pemasukan.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI