Bandar Lampung (Lampost.co) — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung pada Desember 2025 berada di angka 130,15.
Poin penting :
1. Nilai Tukar Petani pada akhir 2025 alami kenaikan.
2. Petani raup keuntungan lebih tinggi dari pada biaya awal.
3. NTP berdampak ada subsektor pertanian, holtikultura hingga budidaya tangkap.
Angka tersebut naik 0,64 persen dari pada NTP November 2025 yang tercatat sebesar 129,33.
Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, M. Sabiel menjelaskan NTP merupakan indikator untuk melihat daya beli petani.
Angka ini dari perbandingan antara Indeks Harga yang Petani peroleh (It) dengan Indeks Harga yang Petani bayar (Ib).
Menurutnya, kenaikan NTP pada Desember 2025 terjadi karena kenaikan harga hasil pertanian yang petani peroleh lebih tinggi dari pada kenaikan biaya yang harus petani keluarkan.
Baca juga : Tunggu Harga Cocok, Bulog Lampung Belum Serap Gabah Petani
“NTP Provinsi Lampung pada Desember 2025 naik sebesar 0,64 persen, dari 129,33 pada November 2025 menjadi 130,15,” kata Sabiel.
Ia menyampaikan, kenaikan NTP dari meningkatnya Indeks Harga yang Petani terima (It) sebesar 1,56 persen.
Sementara itu, Indeks Harga yang Petani bayar (Ib) juga mengalami kenaikan, namun lebih rendah, yakni 0,91 persen.
“It pada Desember 2025 naik dari 162,10 menjadi 164,62. Sedangkan Ib naik dari 125,34 menjadi 126,48,” ujar nya.
Ia menjelaskan, kenaikan It berlangsung pada beberapa subsektor pertanian. Subsektor tanaman pangan naik 2,63 persen, tanaman hortikultura 6,72 persen, subsektor peternakan 0,55 persen, dan subsektor perikanan tangkap 1,01 persen.
Sedangkan kenaikan Ib terpengaruh oleh naiknya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 1,35 persen. Adapun Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (IBPPBM) justru tercatat turun 0,31 persen.
Berdasarkan subsektor, peningkatan NTP Desember 2025 terjadi pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,62 persen, tanaman hortikultura 5,64 persen, subsektor peternakan 0,05 persen, serta subsektor perikanan tangkap 0,57 persen.
Namun, Sabiel menyebut tidak semua subsektor mengalami kenaikan. NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat tercatat turun 0,50 persen, sementara subsektor perikanan budidaya mengalami penurunan sebesar 1,06 persen.







