Bandar Lampung (Lampost.co) — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2025 sebesar 1,25 persen.
Poin penting :
1. Nilai inflasi Desember 2025 atas peningkatan IHK.
2. Inflasi bulanan menunjukkan tekanan harga bulan sebelumnya.
3. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tertinggi.
Kenaikan harga ini tercermin dari peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dalam setahun terakhir.
Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, M. Sabiel, menjelaskan IHK Lampung pada Desember 2025 berada pada angka 109,79. Angka tersebut meningkat dengan Desember 2024 yang tercatat sebesar 108,43.
“Pada Desember 2025 terjadi inflasi y-on-y sebesar 1,25 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,43 pada Desember 2024 menjadi 109,79 pada Desember 2025,” kata Sabiel, Senin, 5 Januari 2026.
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat perkembangan harga secara bulanan.
Baca juga : Harga Melonjak Inflasi Lampung Diklaim Terkendali
Pada Desember 2025, inflasi bulanan (month to month/m-to-m) menunjukkan adanya tekanan harga dengan bulan sebelumnya.
“Sedangkan tingkat inflasi m-to-m Desember 2025 tercatat inflasi sebesar 0,59 persen,” ujarnya.
Sabiel menyebut inflasi tahunan tersebut karena kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran utama.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan indeks sebesar 4,07 persen.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang tampak oleh naiknya indeks beberapa kelompok pengeluaran,” jelas Sabiel.
Selain kelompok makanan, kenaikan harga juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,23 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,84 persen, serta kelompok kesehatan 1,06 persen.
Kelompok transportasi mengalami inflasi 1,47 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 2,59 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 1,40 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,45 persen.
Sementara itu, terdapat dua kelompok pengeluaran yang justru mengalami penurunan indeks harga atau deflasi secara tahunan.
Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,57 persen, sedangkan kelompok pendidikan mencatat deflasi cukup dalam sebesar 17,98 persen.








