Bandar Lampung (Lampost.co) — Perum Bulog Kantor Wilayah Lampung mencatat realisasi penyerapan gabah petani setara beras sepanjang 2025 mencapai 202.564 ton. Angka ini melampaui target penugasan dari kantor pusat.
Poin penting :
1. Penyerapan gabah Lampung melampaui target awal.
2. Dukungan Pemerintah Kabupaten/ Kota menjadi dorongan target tercapai.
3. Bulog pastikan ketersediaan pasokan aman.
Target awal penyerapan gabah Bulog Lampung pada 2025 ditetapkan sebesar 155.000 ton setara beras. Dengan capaian tersebut, realisasi penyerapan tercatat mencapai sekitar 130 persen dari target.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Lampung, Rindo Safutra mengatakan penyerapan gabah berlangsung dari berbagai pihak dari seluruh kabupaten/kota.
Bulog menyerap gabah dari petani, gabungan kelompok tani, serta mitra Bulog yang ada di Lampung.
“Pengadaan gabah kita tahun 2025 setara beras mencapai 202.564 ton. Kami menyerap gabah yang ada pada wilayah Provinsi Lampung dari petani, gapoktan, serta mitra Bulog Lampung,” kata Rindo, Selasa, 20 Januari 2026.
Baca juga : Sepanjang 2024 Serapan Gabah Petani Capai 26.263 Ton
Ia menjelaskan, penyerapan gabah tersebut sebagai bagian dari tugas Bulog dalam menjaga ketersediaan cadangan beras pemerintah di daerah.
Penyerapan juga sesuai dengan penugasan yang berlaku oleh pemerintah pusat.
Terkait rencana penyerapan gabah pada 2026, Rindo menyampaikan hingga saat ini Bulog Lampung belum menerima penugasan resmi. Penugasan tersebut biasanya terbit dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Untuk rencana penyerapan tahun 2026 belum ada penugasan resmi. Namun prediksi kami, serapan tahun ini sekitar 250 ribu ton setara beras yang rencananya akan kami serap sepanjang tahun 2026,” jelas dia.
Selain itu, ia menyebut target produksi padi Provinsi Lampung pada 2026 kemungkinan mencapai 3,6 juta ton. Namun, tidak seluruh produksi tersebut dapat terserap oleh Bulog.
Menurutnya, keterbatasan infrastruktur menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya serap Bulog. Kapasitas gudang sebagai pertimbangan utama dalam setiap proses penyerapan gabah.
“Produksi Lampung sangat besar. Tidak mungkin semuanya terserap Bulog karena keterbatasan infrastruktur. Setiap penyerapan tentu kami perhitungkan dengan ketersediaan gudang, dan hal ini terus kami koordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Lampung,” jelas dia.








