Bandar Lampung (Lampost.co): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan seluruh pemangku kepentingan harus menjaga keberlangsungan sektor pertanian di tengah ancaman kemarau ekstrem. Ia menilai posisi Lampung sebagai sentra pangan utama menuntut tanggung jawab lebih besar karena penurunan produksi dapat memicu efek domino terhadap stabilitas harga pangan nasional.
Gubernur Mirza merespons data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang memprediksi puncak musim kemarau di Lampung terjadi pada Juli hingga September 2026 dengan curah hujan sangat rendah. Ia mengajak seluruh pihak menjaga produksi pangan sebagai tanggung jawab bersama, tidak hanya untuk masyarakat Lampung tetapi juga untuk kebutuhan nasional.
“Semua pihak harus menjaga hajat hidup orang banyak. Kita tidak hanya melayani warga Lampung, tetapi juga masyarakat luas yang selama ini bergantung pada hasil panen daerah ini,” ujar Mirza, Jumat, 10 April 2026.
Mirza mengurai keterkaitan antarsektor dengan mencontohkan dampak penurunan produksi jagung. Ia menjelaskan penurunan produksi jagung akan langsung mendorong kenaikan harga pakan ternak di tingkat nasional.
“Ketika produksi jagung turun, harga pakan naik. Kondisi ini kemudian mendorong kenaikan harga ayam dan telur di pasar. Dampaknya meluas, mulai dari kesejahteraan petani hingga stabilitas ekonomi,” jelasnya.
Ia menegaskan tiga komoditas utama, yakni padi, jagung, dan singkong, menopang pertumbuhan ekonomi Lampung. Ia mengingatkan gangguan produksi maupun fluktuasi harga akibat El Nino akan langsung menekan laju pertumbuhan ekonomi daerah.
Koordinasi dan Antisipasi Dini
Pemprov Lampung memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dan Balai Besar Wilayah Sungai untuk mengoptimalkan manajemen air dan sistem peringatan dini. Pemerintah daerah mengarahkan langkah tersebut guna memastikan kesiapan seluruh wilayah menghadapi potensi kekeringan.
Gubernur Mirza menginstruksikan seluruh kepala daerah segera memetakan risiko kekeringan di wilayah masing-masing. Ia meminta pemerintah kabupaten bergerak cepat tanpa menunggu dampak kemarau semakin meluas.
“Setiap kabupaten harus bergerak sekarang. Kita tidak boleh menunggu kekeringan datang baru bertindak. Kita harus menjaga ketahanan pangan sebagai benteng utama ekonomi daerah,” tegasnya.








