Bandar Lampung (Lampost.co) — Tekanan pasar global mendorong perubahan strategi industri udang Lampung. Kini, penguatan pasar domestik menjadi pilihan utama.
Poin Penting:
-
Lampung memperkuat pemasaran udang di pasar domestik.
-
Business matching jadi strategi hadapi tekanan global.
-
Ekspor udang terdampak tarif AS dan isu cesium-137.
Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah strategis dan terukur guna menjaga keberlanjutan sektor perikanan. Penguatan pasar domestik melalui Business Matching Pemasaran Udang Dalam Negeri. Kegiatan dari gagasan Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung.
Kepala DKP Lampung, Liza Derni, menegaskan pentingnya respons cepat. Menurutnya, dinamika global berdampak langsung pada kinerja ekspor udang.
Baca juga: Lima Ton Udang Terkontaminasi Radio Aktif Dimusnahkan
Selain itu, ketidakpastian pasar internasional semakin meningkat. Akibatnya, pelaku industri membutuhkan alternatif pasar yang stabil.
Melalui business matching, pemerintah memperluas penyerapan udang Lampung. Sekaligus, memperkuat jejaring kerja sama antarpelaku usaha. “Pasar domestik memiliki potensi besar menopang industri udang,” ujar Liza.
Karena itu, DKP mempertemukan produsen, distributor, dan konsumen besar. Dengan sinergi tersebut, peluang bisnis baru dapat tercipta. Selain itu, daya saing sektor kelautan dan perikanan ikut meningkat.
Udang Lampung juga diarahkan menjadi sumber pangan bernilai gizi tinggi. Komoditas ini memiliki peran strategis lintas sektor. Selain memenuhi konsumsi rumah tangga, udang masuk sektor perhotelan.
Kemudian, jasa boga juga menjadi sasaran pemasaran. Bahkan, mendorong udang Lampung mendukung program Makan Bergizi Gratis. Program ini memperkuat ketahanan pangan nasional.
Komoditas Unggulan Lampung
Liza menjelaskan udang merupakan komoditas unggulan Lampung. Kontribusinya signifikan terhadap ekspor perikanan nasional. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, pasar ekspor menghadapi tantangan serius.
Kebijakan tarif Amerika Serikat menjadi salah satu hambatan. Selain itu, isu kontaminasi cesium-137 turut memengaruhi kepercayaan pasar. Kondisi tersebut menekan volume ekspor udang Lampung.
Daya saing udang di pasar internasional pun ikut melemah. Karena itu, perlu mengurangi ketergantungan pada ekspor.
Sebagai respons, DKP Lampung menggandeng berbagai pihak dengan melibatkan perangkat daerah secara aktif. Selain itu, Shrimp Club Indonesia turut diajak berkolaborasi. Kolaborasi ini menginisiasi Business Matching Pemasaran Udang Dalam Negeri.
Harapannya dari kegiatan tersebut menjadi motor penggerak pasar lokal. Dengan pasar domestik kuat, industri udang lebih berkelanjutan.
Penguatan pasar dalam negeri berdampak luas. Pembudi daya memperoleh kepastian penyerapan produksi.
Pelaku usaha hilir juga mendapatkan pasokan stabil. Sementara itu, masyarakat memperoleh akses pangan bergizi.
Langkah ini mempertegas komitmen Lampung menjaga sektor perikanan. Di tengah tekanan global, industri udang tetap tumbuh.








