Menggala (Lampost.co): Ketua Pelaksana Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Lampung, Saipul, menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Menggala Tengah di Kabupaten Tulangbawang setelah muncul kasus dugaan keracunan makanan.
Saipul menyampaikan langsung keputusan tersebut di Bandar Lampung, Rabu, 25 Februari 2026. Ia menegaskan bahwa pihaknya langsung merespons laporan yang masuk dengan menutup aktivitas dapur layanan tersebut.
“Kami sudah mendapatkan laporan bahwa dapur SPPG tersebut ditutup sementara sampai waktu tidak ditentukan,” kata Saipul.
Ia menjelaskan bahwa tim Satgas MBG akan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum membuka kembali operasional dapur tersebut. Menurutnya, tim akan menuntaskan proses pengawasan dan pengecekan kesiapan lebih dahulu.
“Penutupan ini berlangsung sampai kami menyelesaikan evaluasi, pengawasan, dan pengecekan kesiapan,” ujarnya.
Saipul menekankan bahwa tim akan memeriksa kepatuhan pengelola dapur terhadap seluruh standar operasional prosedur (SOP). Ia ingin memastikan setiap tahapan pengolahan dan distribusi makanan berjalan sesuai aturan.
“Di sana nanti kami periksa lagi apakah semua standar operasional prosedur (SOP) yang ada dipatuhi,” tegasnya.
Selain memeriksa SOP, Satgas MBG juga menelusuri kelengkapan administrasi dapur tersebut, termasuk kepemilikan sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS). Saipul memastikan timnya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menangani kasus tersebut.
“Kami akan lakukan pemeriksaan lagi di SPPG tersebut, yang pasti sudah dilakukan koordinasi dan penanganan kepada korban serta SPPG yang bersangkutan,” tambahnya.
Puluhan Warga
Sebelumnya, sebanyak 33 warga di Menggala Tengah mengalami gejala dugaan keracunan atau alergi makanan. Data mencatat lima balita, 14 anak-anak, satu lansia, dan 13 orang dewasa mengalami mual, muntah, serta buang air besar berulang setelah menyantap telur asin yang terdapat dalam paket MBG.
SPPG Menggala Tengah menyajikan paket tersebut pada Selasa (24/2) bersama roti buatan sendiri, wafer, dan jeruk. Setelah mengonsumsi makanan itu, puluhan warga merasakan keluhan dan segera mencari pertolongan medis.
Tenaga kesehatan kini merawat seluruh korban di RSUD Menggala. Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih memeriksa sampel makanan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.








