Sukadana (lampost.co)–Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan berkomitmen melakukan percepatan pembangunan pagar pembatas (barrier) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Proyek strategis ini ditargetkan selesai dalam waktu singkat guna mengakhiri interaksi negatif antara satwa liar dan penduduk sekitar secara permanen.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa pembangunan ini merupakan direktif langsung dari Presiden yang didanai melalui Dana Bantuan Presiden (Banpres). Langkah ini diambil bukan untuk mengisolasi habitat, melainkan untuk menciptakan ruang hidup berdampingan yang aman bagi manusia maupun satwa.
“Kami menargetkan pembangunan pembatas di Way Kambas ini selesai dalam empat hingga lima bulan ke depan. Tidak perlu menunggu bertahun-tahun, program ini harus tuntas paling lambat akhir tahun 2026,” tegas Raja Juli di Lampung Timur, Kamis, 26 Maret 2026.
TNWK merupakan satu dari 57 taman nasional di Indonesia yang memiliki nilai konservasi sangat tinggi. Selain gajah yang menjadi atensi khusus Presiden, kawasan ini juga merupakan rumah bagi harimau, badak, tapir, dan berbagai spesies langka lainnya.
Pembangunan pembatas ini diproyeksikan memberikan dampak positif bagi dua sisi:
-
Sektor Pertanian: Menjamin lahan perkebunan dan sawah masyarakat tidak lagi dirusak oleh kawanan gajah.
-
Keselamatan Jiwa: Menghilangkan risiko jatuhnya korban akibat konflik fisik antara manusia dan satwa liar.
-
Integritas Hutan: Memastikan habitat di dalam taman nasional tetap terjaga tanpa gangguan aktivitas manusia dari luar.
Adopsi Kearifan Lokal
Menhut menambahkan bahwa dalam proses pembangunannya, pemerintah sangat memperhatikan masukan dari masyarakat setempat. Pengalaman budaya lokal akan diintegrasikan ke dalam sistem mitigasi ini. Bahkan, desain fisik pembatas akan mengadopsi ornamen serta nilai-nilai Budaya Lampung agar keberadaannya selaras dengan lingkungan sosial sekitar.
“Inti dari perintah Presiden adalah menciptakan solusi yang berkelanjutan dan tidak memicu masalah baru di kemudian hari. Dengan desain yang menghargai kearifan lokal, kami berharap konflik satwa dan manusia di Way Kambas benar-benar menjadi sejarah masa lalu,” pungkasnya. (ANT)








