Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan komitmennya memperkuat pelestarian budaya lokal dengan menyasar generasi muda, terutama generasi Z (Gen Z). Upaya itu diwujudkan melalui penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) IV Lampung yang akan berlangsung pada 20—26 Oktober 2025.
Poin Penting:
-
Fokus utama adalah generasi muda sebagai pewaris budaya Lampung.
-
Hari Kamis Beradat dan memperkuat bahasa Lampung.
-
Budaya sebagian dari pembangunan strategis.
Langkah strategis ini untuk menjawab kekhawatiran terhadap lunturnya identitas budaya di tengah gempuran budaya global. Pemerintah menargetkan generasi digital tidak sekadar menonton budaya lokal, tetapi juga merasa memiliki, memahami, dan berperan aktif menjaga warisan Lampung.
PKD Panggung Kreatif dan Edukatif Gen Z
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, Thomas Amirico, menyatakan PKD bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ruang edukasi dan ekspresi kreatif. Ia menegaskan budaya adalah napas yang menjaga masyarakat tetap berakar pada identitas lokal.
Baca juga: SMK Seni Budaya Jadi Pilihan Baru Bagi Generasi Muda
Menurutnya, kekuatan sebuah daerah bukan hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada nilai budaya yang terjaga dan merupakan warisan lintas generasi. Karena itu, pemerintah tidak ingin pelestarian budaya bersifat seremonial, melainkan berkelanjutan dan relevan dengan zaman Gen Z.
Ragam Tradisi dan Warisan Adat
Selama sepekan, panggung PKD bakal penuh dengan atraksi budaya yang menampilkan kekayaan Lampung. Mulai dari adat pepadun hingga sai batin, pameran seni rupa, lomba melukis, hingga pertunjukan musik tradisional. Pengemasan seluruhnya kegiatan untuk menghubungkan budaya lokal dengan cara pandang generasi digital.
Kolaborasi pemerintah dengan seniman, budayawan, komunitas kreatif, dan pelaku pendidikan menjadi strategi agar tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga mengembangkannya menjadi kekuatan ekonomi dan pariwisata.
Dorong Hari Kamis Beradat & Bahasa Lampung
Thomas juga menegaskan komitmen terhadap gerakan Hari Kamis Beradat, termasuk ajakan menggunakan bahasa Lampung di ruang publik dan sekolah setiap Kamis. Pemerintah terus memperkuat muatan lokal bahasa Lampung agar generasi muda mencintai akar budayanya sejak dini.
“Keberagaman budaya Lampung bukan pembeda, melainkan penyatu. Dengan menjaga tradisi, kita membawa Lampung maju tanpa kehilangan jati diri,” ujar Thomas.








