Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung fokus membangun ekosistem ekonomi desa melalui program strategis Desaku Maju. Ini bertujuan menahan capital flight serta meningkatkan nilai tambah komoditas utama daerah.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam percepatan hilirisasi komoditas dan pembangunan berbasis desa.
“Lampung adalah provinsi kaya komoditas. Padi, jagung, dan singkong saja menghidupi sekitar 1,2 juta kepala keluarga atau hampir 70 persen populasi. Kalau tiga komoditas ini kita selesaikan tata kelolanya, Lampung bisa take off,” ujarnya.
Baca Juga:
Wujudkan Ruang Kolaborasi Konkret dan Berkelanjutan di Lampung
Dalam Bentuk Mentah
Kemudian Gubernur Mirza menjelaskan bahwa selama ini sebagian besar komoditas Lampung masih keluar dalam bentuk mentah. Sehingga nilai tambah dinikmati daerah lain.
Ia mencontohkan produksi jagung mencapai 1,7 juta ton per tahun. Namun belum mendapat dukungan dengan sistem pengeringan (dryer) memadai di tingkat desa.
Melalui program Desaku Maju, Pemprov Lampung merancang pembangunan dryer secara masif di 500 desa sentra produksi.
Sehingga petani memiliki daya tawar lebih baik dan hilirisasi akan diperluas hingga pengolahan pakan ternak, produksi ayam, hingga distribusi pangan berbasis desa.
“Kalau jagung dikeringkan di desa, dibuat pakan di desa, ayam dibesarkan dan diproses di desa, lalu masuk ke dapur MBG di desa. Kita bisa mengurangi biaya logistik, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memperkuat konsumsi protein masyarakat,” jelasnya.
Selain dryer, Pemprov juga menyiapkan program pupuk organik cair (POC) di 2.000 desa untuk meningkatkan produktivitas lahan hingga 15 persen.
Serta penguatan BUMDes agar mampu menjadi offtaker komoditas lokal di mana saat ini dari sekitar 2.300 BUMDes berbadan hukum. Ini baru sebagian kecil yang benar-benar aktif dan tumbuh.








