Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung kembali menggelar Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Lampung 2025, sebagai momentum strategis memperkuat identitas budaya dan warisan leluhur Bumi Ruwa Jurai. Ajang ini bukan sekadar seremonial, melainkan juga bagian dari misi menjaga jati diri kultural Lampung di tengah arus modernisasi global.
Poin Penting:
-
PKD Lampung 2025 dorong kultur sebagai pilar pembangunan daerah.
-
Warisan budaya sebagai kekuatan identitas dan ekonomi masa depan.
-
Tema Begawi jejama budaya maju tekankan persatuan dan adaptasi zaman.
Budaya Napas Eksistensi Bangsa
Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Lukman Pura, menyatakan kebudayaan adalah napas yang menjaga eksistensi bangsa. Ia menilai pengakuan nasional atas Hari Peringatan Budaya 17 Oktober menjadi bukti kultur memiliki posisi vital dalam pembangunan.
“Ini momen yang menyadarkan kita kalau budaya adalah jiwa bangsa. Jika tidak dirawat, kita kehilangan identitas di tengah modernitas,” ujarnya.
Baca juga: Karnaval Tari Ngigel Meriahkan HUT ke-343 Bandar Lampung, Angkat Budaya Lokal
Seruan Persatuan dan Revitalisasi Kearifan Lokal
PKD Lampung 2025 mengusung tema Begawi jejama budaya maju, yang mencerminkan semangat kebersamaan, gotong royong, dan penguatan nilai adat. Pemerintah mengajak seluruh masyarakat menjadi pelaku budaya, bukan sekadar penonton.
Dalam PKD Lampung nanti menampilkan beragam atraksi, seperti seni tari pepadun dan sai batin dan pameran wastra tapis dan kain tradisional. Selain itu, kearifan lokal dan kuliner khas Lampung hingga dialog budaya dan ruang kreatif generasi muda.
Warisan Budaya Lampung Aset Bernilai Global
Lukman Pura juga menegaskan Lampung adalah pusat keberagaman suku dan budaya yang hidup secara harmonis. Budaya tidak hanya simbol, tetapi “aset strategis yang dapat mengangkat Lampung ke level internasional”.
“Setiap unsur budaya Lampung adalah kekuatan karakter bangsa, sekaligus modal diplomasi global jika pengemasannya modern dan profesional,” ujarnya.
Pemerintah pun kembali menegaskan dukungan terhadap program Hari Kamis Beradat dan penguatan bahasa Lampung di sekolah dan ruang publik sebagai langkah konkret merawat akar kebudayaan dari level akar rumput.
Budayawan-Komunitas Jadi Garda Terdepan
PKD Lampung tidak akan hidup tanpa partisipasi seniman, budayawan, komunitas lokal, dan generasi kreatif. Mereka menjadi penjaga dan pengembang budaya, sekaligus motor penggerak transformasi kebudayaan ke era digital.
Lukman memberikan apresiasi atas semangat kolektif yang membuat perhelatan ini bukan hanya meriah, tetapi juga bernilai strategis dan relevan melintasi generasi.
“Semangat bumei gham budayo gham harus terus menyala. Lampung harus maju tanpa kehilangan akar budaya, dan menjadi kebanggaan generasi mendatang,” katanya.








