Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung terus menguatkan ekonomi desa melalui program strategis Desaku Maju. Program tersebut menjadi prioritas Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela.
Poin Penting:
-
Pemprov Lampung fokus memperkuat ekonomi desa guna meningkatkan kesejahteraan petani.
-
Program Desaku Maju menjadi program prioritas provinsi dalam membangun kemandirian desa.
-
Hilirisasi pertanian untuk memberikan nilan tambah yang lebih besar bagi petani.
Pemprov melalui program tersebut mendorong kemandirian ekonomi desa secara sistematis. Dengan demikian, pembangunan desa tidak lagi bersifat seremonial.
Kepala Bappeda Lampung, Anang Risgiyanto, menegaskan desa menjadi awal dari pembangunan ekonomi. Hal itu mengingat desa menyimpan potensi besar sekaligus masalah mendasar. “Karena persoalan muncul di desa, solusi juga harus berasal dari desa. Program Desaku Maju dirancang berbasis kebutuhan riil warga desa,” katanya.
Baca juga: TPP Kunci Sukses Program Desaku Maju
Kontributor PDRB Nasional
Anang juga menyebut Lampung menjadi kontributor besar PDRB nasional sektor pertanian. Namun, masyarakat desa belum optimal merasakan dampaknya.
Akibatnya, petani tidak menikmati langsung nilai tambah produk pertanian. Sementara itu, keuntungan justru lebih banyak mengalir ke luar daerah.
“PDRB sering hanya bicara angka. Namun, kesejahteraan petani belum terangkat signifikan. Saat ini, rata-rata pendapatan masyarakat berkisar Rp51 juta per tahun,” ujarnya.
Hilirisasi Pertanian
Selain terbatasnya akses industri, masalah utama lain ada pada hilirisasi pertanian. Contohnya, petani padi menjual gabah mentah ke pengusaha.
Kemudian, pengusahan mengolah mengolah gabah menjadi beras di luar Lampung. Selanjutnya, menjual beras kembali ke Lampung dengan harga lebih mahal.
“Situasi ini memicu biaya yang tinggi dan membuat masyarakat membeli hasil pertanian mereka sendiri dengan harga lebih mahal,” katanya.
Karena itu, Desaku Maju mendorong hilirisasi langsung berbasis desa, salah satunya dengan menghadirkan rice milling unit atau RMU. Dengan adanya RMU, petani dapat mengolah gabah menjadi beras sendiri sehingga memperoleh nilai tambah lebih besar.
Tak hanya itu, Pemprov Lampung juga menyediakan fasilitas dryer modern untuk mempercepat proses pengeringan hasil panen. Selain mempercepat panen, kualitas beras juga meningkat.
“Jika petani menjual beras Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram, pendapatan petani melonjak tajam. Pendapatan jauh lebih besar daripada petani menjual dalam bentuk gabah yang rata-rata hanya sekitar Rp6.000 per kilogram,” ujarnya.
Terus Beri Bantuan
Selain itu, Pemprov Lampung juga menyalurkan bantuan pupuk organik cair (POC) di 500 titik atau 432 desa. Kemudian menyediakan 24 unit dryer yang terintegrasi dengan program POC.
Pemprov juga menyiapkan tambahan 10 unit dryeryang anggarannya melalui APBD Perubahan dan rencananya pada 2026 menmbah hingga 100 unit. “Seluruh upaya ini merupakan bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi desa yang inklusif sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah,” katanya.








