Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terus memperkuat langkah strategis dalam mendorong peningkatan investasi dengan membuka akses seluas-luasnya bagi para investor.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen daerah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.
Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Lukman Pura mengungkapkan bahwa hingga Triwulan III tahun 2025, realisasi investasi di Provinsi Lampung telah mencapai Rp12,94 triliun.
Angka ini melampaui target investasi tahun 2025 sebesar Rp10,76 triliun atau setara 120,3 persen.
Capaian tersebut sangat menggembirakan karena menunjukkan pertumbuhan investasi sebesar 76,44 persen secara year-on-year dari pada tahun 2024.
Baca Juga:
Ekonomi Lampung Diproyeksi Tumbuh Optimistis Tahun 2026
Adapun total investasi Triwulan III 2025 terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp10,80 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp2,12 triliun.
Selain berdampak pada peningkatan nilai ekonomi daerah, realisasi investasi ini juga berkontribusi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.
Tercatat sebanyak 18.505 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan 21 Tenaga Kerja Asing (TKA) terserap.
Dengan capaian tersebut, Lampung berhasil menempati posisi lima besar provinsi dengan realisasi investasi tertinggi di Sumatera dan peringkat ke-22 dari 38 provinsi secara nasional.
Penguatan Infrastruktur
Adapun peningkatan iklim investasi di Lampung merupakan hasil kerja bersama melalui penguatan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penyederhanaan regulasi. Serta promosi investasi yang terintegrasi dengan pemerintah pusat dan kabupaten/kota.
“Lampung juga memiliki keunggulan strategis sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera yang berdekatan dengan Ibu Kota Jakarta,” ujarnya.
Pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut dalam beberapa tahun terakhir dinilai mampu mendorong arus ekonomi, perdagangan, dan investasi secara signifikan.
Beragam potensi unggulan turut menjadi daya tarik investasi, terutama di sektor pertanian dan sumber daya alam. Produksi padi Lampung mencapai 2,79 juta ton dan menempati peringkat keenam nasional.
Sementara itu, ubi kayu dengan produksi sekitar 8 juta ton pada 2024 menjadikan Lampung sebagai produsen terbesar di Indonesia. Komoditas lain seperti jagung, nanas, kopi, tebu, lada, dan pisang juga masuk dalam 10 besar nasional.
Potensi tersebut membuka peluang luas bagi investasi hilirisasi pertanian yang mampu memberikan nilai tambah sekaligus efek ekonomi berantai bagi masyarakat.
Tak hanya itu, sektor energi baru dan terbarukan juga terus berkembang, mulai dari bioethanol, panas bumi, tenaga air, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Sektor pariwisata pun tak kalah menjanjikan dengan kekayaan alam serta warisan budaya seperti kain tapis dan batik Lampung yang bernilai tinggi.
Untuk memperkuat ekosistem investasi, Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen terus menyederhanakan regulasi dan memangkas hambatan birokrasi.
Saat ini, proses perizinan usaha telah terintegrasi melalui sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS RBA) yang memungkinkan pengurusan izin secara daring dengan proses yang lebih cepat, transparan, dan efisien.
“Mari kita terus membangun Lampung dengan semangat kebersamaan. Potensi besar daerah ini membutuhkan kerja nyata, integritas, dan kolaborasi dari seluruh ASN,” katanya.








