Bandar Lampung (lampost.co)–Kawasan tambak udang Dipasena di Kabupaten Tulangbawang kini berada dalam kondisi kritis. Jalur penyaluran air laut yang menjadi jantung aktivitas budidaya di wilayah tersebut mengalami sedimentasi hebat. Dampaknya, langsung pada kelangsungan usaha para petambak.
Bupati Tulangbawang, Qodratul Ikhwan, memaparkan data yang mengkhawatirkan terkait kondisi kanal utama. Infrastruktur air yang semula memiliki kedalaman hingga 15 meter, kini mengalami pendangkalan ekstrem. Di berbagai titik, kedalaman air yang tersisa bahkan hanya tinggal 0,5 meter.
“Gangguan pada kanal utama berarti terhentinya pasokan air laut ke tambak. Padahal, ketersediaan air laut yang bersih dan lancar adalah kunci utama keberhasilan panen udang,” tegas Qodratul, baru-baru ini.
Bupati mengakui bahwa upaya normalisasi total memerlukan biaya yang fantastis, yakni berkisar antara Rp7 triliun hingga Rp9 triliun. Mengingat keterbatasan anggaran daerah, penanganan menyeluruh dalam waktu dekat hampir mustahil secara mandiri.
Sebagai solusi taktis, pemerintah daerah mulai memetakan tambak berdasarkan lokasi:
-
Area Prioritas: Tambak yang berada di bibir pantai jadi prioritas karena masih memiliki akses sirkulasi air laut secara alami.
-
Area Terdampak: Tambak di wilayah pedalaman yang sangat bergantung pada kanal utama kini menjadi titik yang paling rapuh secara produktivitas.
Produktivitas di Bawah Titik Impas
Masalah infrastruktur ini tercermin pada hasil panen yang belum mencapai performa ideal. Secara teknis, tambak baru mencapai titik impas (Break Even Point) jika produktivitas menyentuh angka di atas 50 persen. Sayangnya, mayoritas tambak saat ini hanya mampu berproduksi di level 40 persen.
Data menunjukkan bahwa dari total 8.000 hektare lahan tambak yang tersedia, hanya sekitar 800 hektare (10 persen) yang mampu beroperasi secara optimal. Kondisi ini menuntut langkah luar biasa untuk menyelamatkan sektor perikanan daerah.
Menyikapi keterbatasan fiskal, Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang membuka pintu lebar bagi sektor swasta untuk berkolaborasi. Skema kemitraan akan mempercepat normalisasi kanal sekaligus membangkitkan kembali kejayaan Dipasena sebagai lumbung udang nasional.








