Bandar Lampung (lampost.co)–PT Sang Hyang Seri (SHS) mengumumkan transformasi bisnis besar-besaran dengan melakukan refocusing total pada sektor perbenihan nasional. Langkah strategis ini membawa angin segar bagi para petani penangkar melalui skema kemitraan yang menjamin kepastian pasar dan stabilitas arus kas.
Direktur Utama PT SHS, Adhi Cahyono Nugroho, menegaskan bahwa perusahaan kini mengalokasikan seluruh sumber daya untuk memodernisasi ekosistem benih yang terintegrasi di daerah. Fokus ini bertujuan untuk menciptakan rantai pasok yang lebih efisien dan menguntungkan bagi produsen lokal.
“SHS siap membangun ekosistem perbenihan yang lebih modern dan terintegrasi di daerah,” ujar Adhi Cahyono, Rabu, 11 Februari 2026.
Insentif Harga
Poin krusial kolaborasi ini adalah jaminan pembelian (offtake) hasil panen petani penangkar dengan sistem pembayaran super cepat. SHS menjanjikan dana cair maksimal satu hari setelah transaksi, sebuah solusi atas kendala likuiditas yang sering dihadapi petani.
Selain kecepatan bayar, SHS juga menawarkan harga kompetitif dengan tambahan insentif sebesar Rp300 hingga Rp500 per kilogram. Harga tersebut di atas rata-rata pasar. “Skema ini kami harapkan mampu memberikan kepastian pasar sekaligus menjaga arus kas petani tetap stabil,” tambahnya.
Sebagai bagian dari penguatan infrastruktur, SHS berencana mengoptimalkan aset strategis mereka di Nambahrejo, Lampung Tengah. Fasilitas riset dan pengembangan (R&D) serta mesin pengolahan benih di lokasi tersebut melalui kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
“Pengelolaan fasilitas bersama BUMD, sehingga memberi nilai tambah nyata bagi pendapatan daerah,” jelas Adhi.








