Bandar Lampung (lampost.co)–Pemerintah Provinsi Lampung memamerkan kekuatan fundamental sektor pertaniannya sebagai daya tawar utama bagi investor industri perbenihan nasional. Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Lampung, Mulyadi Irsan, menegaskan bahwa Lampung kini berada di posisi paling strategis untuk menjadi mitra utama PT Sang Hyang Seri (SHS) dalam memperkuat kedaulatan pangan.
Data menunjukkan sektor pertanian masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi mencapai 28 persen terhadap struktur ekonomi Lampung. Hal ini membuktikan bahwa transformasi industri dari hulu ke hilir memiliki landasan ekonomi yang sangat kuat di Bumi Ruwa Jurai.
“Pertanian bukan sekadar sektor tradisional, melainkan penggerak utama pertumbuhan ekonomi provinsi kami. Angka kontribusi 28 persen tersebut adalah bukti nyata potensi yang kami miliki,” ujar Mulyadi Irsan, Rabu, 11 Februari 2026.
Capaian Produksi
Daya tarik Lampung semakin kuat dengan surplus produksi padi 3,5 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada 2025. Selain itu, Lampung konsisten mempertahankan posisi dalam lima besar produsen jagung nasional dengan 8 persen terhadap total produksi Indonesia.
Merespons potensi besar tersebut, Pemprov Lampung telah memetakan sejumlah wilayah unggulan yang menjadi sentra penangkaran benih terintegrasi. Fokus pengembangan diarahkan pada wilayah yang memiliki rekam jejak pertanian kuat untuk menjamin kualitas hasil benih.
“Kami mendorong pengembangan sentra penangkaran benih di titik-titik strategis seperti Trimurjo, Pringsewu, hingga Tanggamus. Kawasan-kawasan ini akan menjadi pilar utama dalam membangun ekosistem pertanian berbasis benih unggul,” jelas Mulyadi.
Langkah strategis menggandeng PT SHS ini diharapkan mempercepat transformasi Lampung dari sekadar pemasok komoditas mentah menjadi pusat industri perbenihan nasional yang modern. Mulyadi optimistis integrasi industri ini akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pendapatan daerah serta berdampak langsung pada kesejahteraan petani lokal.
“Fokus kami adalah nilai tambah. Dengan industri benih yang terintegrasi di Lampung, kesejahteraan petani akan meningkat seiring dengan ketersediaan teknologi pertanian yang lebih dekat dengan mereka,” pungkasnya.








