Bandar Lampung (Lampost.co) — Dosen Teknik Unila, Mona Arif Batubara, memaparkan sistem peringatan dini early warning system yang dikembangkan Unila dapat bekerja melalui dua metode, yakni di darat dan di laut.
Hal ini dalam upaya menangani potensi tsunami akibat gempa megathrust di Lampung.
Menurut Mona, sistem yang terpasang di darat akan mereka tempatkan di kawasan pesisir. Keunggulannya terletak pada biaya yang relatif murah dengan peralatan yang tidak terlalu kompleks. Sehingga lebih mudah diterapkan di banyak titik rawan.
Baca Juga:
Waspada Megathrust, Inisiator Bencana Dorong Sistem Peringatan Dini Lokal
“Alat di darat bekerja dengan membaca gelombang. Saat tsunami, biasanya air laut akan surut terlebih dahulu. Anomali itu yang kemudian dibaca sistem dan memicu peringatan dini,” jelasnya.
Sementara itu, sistem yang terpasang di laut menggunakan sensor berbentuk buih yang mereka letakkan di bawah permukaan air. Sensor ini berfungsi membaca perubahan tekanan di dasar laut.
“Misalnya alat diletakkan di kedalaman 100 meter, gelombang setinggi 20 centimeter saja sudah bisa terbaca. Jika terjadi tsunami, gelombang bisa meningkat hingga puluhan meter. Sehingga perubahan tekanannya signifikan dan langsung terdeteksi,” kata Mona.
Data dari sensor tersebut akan dikirimkan ke BMKG secara berkala. Sistem bekerja sepanjang waktu dan membaca gelombang setiap detik selama 24 jam penuh. Lalu dianalisis untuk mengetahui ada tidaknya anomali yang berpotensi menjadi ancaman bencana.
Terkait potensi ketinggian gelombang 20 hingga 30 meter, Mona menegaskan masyarakat perlu memahami konteksnya secara utuh.
Menurutnya, ketinggian tersebut terjadi di wilayah pesisir, bukan di tengah laut, karena gelombang akan semakin meninggi saat mendekati daratan.
“Secara logika memang terdengar menakutkan, tapi perlu kehati-hatian dalam memahaminya. Semakin ke pesisir, energi gelombang akan terkonsentrasi sehingga ketinggiannya meningkat,” ujarnya.
Belum Ada Teknologi
Mona juga menjelaskan bahwa hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti waktu terjadinya gempa megathrust. Namun, para ahli geologi dapat membaca pola periode pergerakan lempeng.
“Di beberapa negara seperti Jepang, gempa besar bisa terjadi dalam periode sekitar 50 tahun. Sementara di Indonesia, ada lempeng yang sudah hampir 300 tahun tidak bergerak. Jika dalam 100 tahun saja bisa memicu tsunami besar, maka potensi risikonya sangat besar,” jelasnya.
Selain teknologi, edukasi kepada masyarakat juga tak kalah penting. Masyarakat harus mengetahui apakah wilayahnya masuk zona merah dan memahami jalur evakuasi. Serta mengetahui apa yang harus masyarakat lakukan saat peringatan bencana muncul.
“Masyarakat perlu tahu ke mana harus mengungsi, apa yang perlu dibawa, apakah evakuasi menggunakan kendaraan atau berjalan kaki. Semua itu harus disosialisasikan sejak dini,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Universitas Lampung, Ahmad Herison, menegaskan bahwa keberadaan early warning system sangat perlu. Terutama bagi masyarakat di kawasan barat Provinsi Lampung yang berada di sepanjang pesisir.
“Kami mengusulkan kebutuhan sekitar 20 unit alat yang ditempatkan di sepanjang pesisir Lampung. Dari usulan tersebut, kami mendorong agar pengadaannya tidak membebani APBD dan dapat melibatkan partisipasi masyarakat maupun pihak lain,” kata Ahmad.








