Bandar Lampung (Lampost.co) — Ancaman gempa megathrust yang berpotensi memicu tsunami besar menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak di Lampung.
Inisiator Bencana, Ginta Wiryasenjaya, menegaskan bahwa peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak bisa kita anggap remeh. Meski waktu kejadiannya belum dapat kita pastikan.
“Kita sangat khawatir dengan peringatan megathrust dari BMKG. Kita tidak tahu kapan akan terjadi, tapi potensi risikonya sangat besar,” ujar Ginta.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah pihaknya menerima paparan dari tim Universitas Lampung (Unila).
Berdasarkan kajian akademisi, potensi ketinggian gelombang tsunami akibat megathrust di wilayah Lampung dapat mencapai 20 hingga 30 meter.
“Kalau itu terjadi, dampaknya tidak terbayangkan. Karena itu kami menginisiasi pertemuan untuk memformulasikan sejumlah konsep mitigasi,” jelasnya.
Baca Juga:
Pemprov Lampung Perkuat Mitigasi Megathrust dan Tsunami
Early Warning System
Salah satu konsep utama yang tengah mereka siapkan adalah pengembangan sistem peringatan dini atau early warning system buatan lokal.
Menurut Ginta, Unila telah memiliki kemampuan untuk merancang alat tersebut dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dari pada produk luar negeri.
“Kalau alat buatan luar negeri seperti dari Amerika bisa mencapai Rp1,2 miliar. Sementara buatan Unila kisarannya sekitar Rp80 juta sampai Rp300 juta, sudah bisa berfungsi,” katanya.
Ke depan, pihaknya berencana memetakan wilayah-wilayah strategis yang membutuhkan pemasangan alat peringatan dini tersebut.
Selain itu, kerja sama dengan pihak swasta di Lampung juga akan mereka siapkan agar pengadaan alat tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Tidak hanya fokus pada tahap sebelum bencana, pembahasan juga mencakup penanganan pascabencana.
“Kami sedang memikirkan skema sebelum dan sesudah bencana. Untuk sebelum bencana, kami dibantu Unila terkait alat pendeteksi. Setelah bencana, tentu perlu dibahas langkah-langkah penanganannya,” ujar Ginta.
Aspek evakuasi juga menjadi perhatian penting. Menurutnya, masyarakat harus mendapat pengetahuan yang jelas tentang jalur dan tujuan evakuasi jika gempa atau tsunami terjadi. Edukasi sejak dini, termasuk di lingkungan sekolah dinilai sangat krusial.
“Anak-anak di sekolah harus tahu kalau terjadi gempa harus ke mana. Itu perlu disimulasikan agar saat kondisi darurat, tidak terjadi kepanikan,” pungkasnya.
Sehingga harus ada upaya kolaboratif antara akademisi, masyarakat, swasta, dan pemangku kepentingan.
“Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan Lampung dalam menghadapi potensi bencana megathrust di masa mendatang,” katanya.








