Bandar Lampung (lampost.co)–Anggota Komisi III DPRD Provinsi Lampung, Yozi Rizal, mengaku belum menerima informasi rinci terkait pembahasan program Koperasi Merah Putih antara Pemerintah Provinsi Lampung dan DPRD. Hingga kini, menurutnya, pembahasan resmi tersebut belum sampai ke tingkat komisi.
“Kalau pembicaraan antara pemerintah provinsi dan DPRD, sejauh ini saya belum mendengar. Di Komisi III juga belum ada informasi yang masuk,” kata Yozi, Senin, 19 Januari 2026.
Meski demikian, Yozi menjelaskan bahwa sejumlah desa di daerah pemilihannya yang mayoritas wilayah pedesaan menunjukkan kesiapan mendukung program tersebut. Bahkan, beberapa desa telah menyiapkan lahan untuk dihibahkan sebagai lokasi pembangunan kantor Koperasi Merah Putih. Namun, pada saat yang sama, banyak desa lain belum memiliki kemampuan serupa.
“Ada desa yang punya lahan dan siap menghibahkan. Akan tetapi, tidak sedikit pula desa yang belum mampu,” ujarnya.
Selain soal kesiapan desa, Yozi juga menyoroti mekanisme pembangunan gedung koperasi yang hingga kini belum ia pahami secara jelas. Ia mengaku mendengar adanya pihak yang diberi tanggung jawab membangun gedung dengan cara membeli lahan sendiri lalu menghibahkannya.
“Saya belum memahami bagaimana mekanisme pembangunan gedungnya. Biasanya ada prosedur lelang atau penunjukan. Soal ini juga belum jelas,” katanya.
Dana Pembangunan
Lebih lanjut, Yozi mempertanyakan informasi yang menyebutkan bahwa dana pembangunan melalui institusi TNI. Menurutnya, hingga saat ini ia belum mengetahui peran dan posisi TNI dalam pengelolaan anggaran tersebut.
“Katanya dana pembanguna lewat TNI. Saya tidak paham posisi TNI di sini sebagai apa, apakah pemegang kas atau hanya pelaksana. Soal kelayakan bangunannya juga belum jelas,” tegasnya.
Di sisi lain, Yozi menilai banyak kepala desa dan masyarakat masih gamang memahami tujuan serta fungsi Koperasi Merah Putih. Minimnya kejelasan informasi, kata dia, berpotensi menimbulkan persepsi negatif di tingkat akar rumput.
“Jangan sampai ini hanya menjadi program monumental, tetapi monumental yang negatif, meninggalkan bangunan tanpa aktivitas,” ujarnya.








