Bandar Lampung (Lampost.co)—Guru Besar Fisika Institut Teknologi Bandung, Prof. Toto Winata, memaparkan peran dan batas fisika dalam mendukung praktik mindfulness dalam kuliah umum yang diselenggarakan STIAB Jinarakkhita Lampung, Sabtu (20/12/2025).
Kuliah umum yang mengangkat tema Perkembangan Sains, khususnya Fisika yang Mendukung Mindfulness dalam Agama Buddha tersebut membahas keterkaitan antara fisika kuantum, metode ilmu pengetahuan, dan transformasi spiritual, dengan menekankan batas yang jelas di antara ketiganya.
Dalam paparannya, Prof. Toto menjelaskan fisika kuantum merupakan fondasi penting sains modern yang dikembangkan para perintis seperti Werner Heisenberg dan Erwin Schrödinger. Meskipun tokoh-tokoh tersebut telah lama wafat, teori dan pemikiran mereka tetap menjadi dasar dalam memahami alam semesta material hingga saat ini.
Baca juga: Dua Kelompok Mahasiswa KKN STIAB Jinarakkhita Lampung 2025 Diterjunkan ke Daerah 3T Pedalaman Provinsi Riau
Ia menyoroti berbagai kesalahpahaman publik terhadap fisika kuantum, khususnya klaim-klaim metafisik yang kerap dikaitkan dengan sains. Salah satu contoh yang dibahas adalah konsep teleportasi. Menurut Prof. Toto, teleportasi dalam fisika memang ada, namun hanya terbatas pada pemindahan keadaan kuantum atau informasi partikel, bukan pemindahan benda fisik, apalagi manusia secara utuh.
Teleportasi tubuh manusia, termasuk pikiran dan kesadaran, dinilai tidak mungkin dilakukan secara prinsip. Hal tersebut bertentangan dengan hukum dasar fisika, seperti no-cloning theorem dan keterbatasan informasi kuantum. Dengan jumlah atom yang mencapai sekitar 10²⁸, tubuh manusia tidak mungkin disalin atau dipindahkan seluruh keadaan kuantumnya.
Lebih lanjut, Prof. Toto menegaskan metode ilmu pengetahuan bekerja secara ketat dan bertahap. Ilmu pengetahuan diawali dengan perumusan model dan algoritma, dilanjutkan dengan perhitungan kompleks yang dibantu komputer, lalu diverifikasi melalui eksperimen. Namun, ketika pembahasan memasuki wilayah makna hidup, pembebasan batin, dan pencerahan, sains mencapai batasnya.
Dalam konteks inilah mindfulness dipahami sebagai jembatan antara sains dan spiritualitas. Secara ilmiah, mindfulness berperan dalam meningkatkan fokus dan regulasi emosi. Sementara secara spiritual, mindfulness dipahami sebagai jalan pembebasan dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan.
Baca juga: STIAB Jinarakkhita Tutup Pembekalan KKN 2025/2026: Siapkan Agen Pemberdayaan Digital-Hijau Berlandaskan Nilai Sadar Penuh
Wakil Ketua I Bidang Akademik STIAB Jinarakkhita Lampung, Wistina Seneru, menilai kuliah umum tersebut memberikan penguatan akademik yang signifikan bagi civitas kampus. Menurutnya, kegiatan ini membantu mahasiswa dan dosen memahami hubungan antara sains dan spiritualitas secara proporsional dan kritis.
“Kuliah umum ini penting untuk meluruskan pemahaman bahwa sains dan spiritualitas memiliki ranah masing-masing. Mahasiswa diajak berpikir ilmiah, sekaligus tetap menghargai praktik mindfulness sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kedewasaan batin,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua STIAB Jinarakkhita Lampung, Dr. Burmansah, menambahkan STIAB Jinarakkhita Lampung merupakan kampus yang berbasis mindfulness dan menjadikan pendekatan tersebut sebagai keunggulan dalam proses pendidikan.
“Kampus STIAB Jinarakkhita Lampung mengembangkan pengajaran dan pembelajaran berbasis mindfulness. Kuliah umum ini sangat bermanfaat dan mendukung pengembangan keilmuan dosen dan mahasiswa di seluruh program studi,” kata Burmansah.
Ia menambahkan saat ini pendekatan deep learning menjadi dasar dan prinsip dalam proses pembelajaran, khususnya pada pilar pertama, yakni mindful learning. Oleh karena itu, dia menilai dialog antara sains dan mindfulness relevan untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi yang berorientasi pada kedalaman pemahaman, kesadaran, dan pembentukan karakter.
Prof. Toto menegaskan fisika dan spiritualitas berada pada dua ranah yang berbeda. Fisika menjelaskan hukum dan fenomena alam semesta material, sedangkan spiritualitas berbicara tentang pengalaman batin manusia. Keduanya dapat berjalan berdampingan secara harmonis selama tidak dipaksakan untuk saling membuktikan.
Kuliah umum ini menjadi ruang dialog akademik yang memperkaya pemahaman sivitas akademika mengenai posisi sains modern di tengah praktik mindfulness, sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan pembelajaran yang sadar, kritis, dan berimbang.






