{"id":1874,"date":"2026-02-03T07:30:13","date_gmt":"2026-02-03T07:30:13","guid":{"rendered":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/?p=1874"},"modified":"2026-02-03T07:31:03","modified_gmt":"2026-02-03T07:31:03","slug":"mahasiswa-teknik-komputer-teknokrat-kembangkan-mesin-pencacah-pupuk-berbasis-iot","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/2026\/02\/03\/mahasiswa-teknik-komputer-teknokrat-kembangkan-mesin-pencacah-pupuk-berbasis-iot\/","title":{"rendered":"Mahasiswa Teknik Komputer Teknokrat Kembangkan Mesin Pencacah Pupuk Berbasis IoT"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (Lampost.co) \u2013<\/strong> Inovasi teknologi kembali lahir dari lingkungan akademik. Mahasiswa Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, <a href=\"http:\/\/www.teknokrat.ac.id\">Universitas Teknokrat Indonesia<\/a>, kampus terbaik di Lampung berhasil mengembangkan Mesin Pencacah Pupuk Berbasis Internet of Things (IoT) sebagai solusi cerdas untuk mendukung pengelolaan limbah organik dan produksi pupuk yang lebih efisien dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Karya inovatif ini merupakan pengembangan lanjutan dari Teknologi Digital Smart Composter yang sebelumnya dikembangkan pada tahun 2024. Melalui pengayaan fitur, peningkatan sistem kontrol, serta integrasi teknologi IoT, mesin pencacah pupuk ini dirancang untuk meningkatkan efektivitas proses pencacahan bahan organik sekaligus memudahkan proses pemantauan dan pengendalian secara real-time.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/2026\/02\/02\/teknokrat-kembangkan-smart-collar-pantau-kesehatan-sapi-secara-real-time\/\">Teknokrat Kembangkan Smart Collar, Pantau Kesehatan Sapi Secara Real Time<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Produk tersebut dikembangkan oleh tiga mahasiswa Program Studi Teknik Komputer, yaitu Imelda Dwi Mariska, Syakhrul Ramadhan, dan Restu Yuda Utama, dengan bimbingan dosen pembimbing Dedi Darwis. Kolaborasi antara mahasiswa dan dosen ini menjadi bukti nyata implementasi pembelajaran berbasis riset dan inovasi teknologi yang aplikatif.<\/p>\n<p>Mesin Pencacah Pupuk Berbasis IoT ini dirancang untuk membantu proses awal pengolahan limbah organik, seperti sisa makanan, limbah pertanian, dan bahan organik lainnya, agar dapat diolah lebih cepat menjadi pupuk. Dengan sistem pencacahan yang terkontrol, ukuran bahan organik dapat disesuaikan sehingga mempercepat proses dekomposisi pada tahap selanjutnya.<\/p>\n<h3>Keunggulan Mesin<\/h3>\n<p>Keunggulan utama dari mesin ini terletak pada penerapan teknologi IoT yang memungkinkan pengguna untuk memantau kinerja mesin, status operasional, serta efisiensi proses pencacahan melalui perangkat digital seperti smartphone atau komputer. Data operasional yang dikirimkan secara real-time juga dapat dimanfaatkan untuk analisis dan pengembangan sistem di masa mendatang.<\/p>\n<p>Menurut tim pengembang, integrasi IoT pada mesin pencacah pupuk ini tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga memberikan kemudahan dalam perawatan dan pengendalian mesin. Sistem ini diharapkan dapat diaplikasikan secara luas, baik di lingkungan pertanian, peternakan, maupun pengelolaan limbah organik skala rumah tangga dan industri kecil.<\/p>\n<p>Karya inovatif ini merupakan salah satu produk hilirisasi riset yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada tahun 2025 melalui skema SINERGI. Pendanaan ini menjadi bukti dukungan pemerintah terhadap pengembangan teknologi terapan yang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan oleh masyarakat.<\/p>\n<p>Melalui skema hilirisasi, hasil riset dan inovasi mahasiswa tidak hanya berhenti pada tahap prototipe, tetapi diarahkan untuk memiliki nilai guna dan peluang implementasi di dunia nyata. Mesin Pencacah Pupuk Berbasis IoT ini menjadi contoh nyata bagaimana riset di perguruan tinggi dapat berkontribusi langsung terhadap sektor pertanian, lingkungan, dan ekonomi berkelanjutan.<\/p>\n<p>Dosen pembimbing, Dedi Darwis, menyampaikan bahwa pengembangan produk ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengintegrasikan keilmuan teknik komputer dengan kebutuhan riil di lapangan. \u201cMahasiswa tidak hanya belajar merancang sistem, tetapi juga memahami bagaimana teknologi dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sebagai bentuk diseminasi dan apresiasi terhadap karya inovatif sivitas akademika, Mesin Pencacah Pupuk Berbasis IoT ini ditampilkan dalam Expo Akademik Universitas Teknokrat Indonesia yang diselenggarakan pada 21\u201322 Januari 2026. Pameran ini menjadi ajang untuk memperkenalkan berbagai produk riset, inovasi, dan hilirisasi yang dikembangkan oleh dosen dan mahasiswa.<\/p>\n<p>Pada kegiatan tersebut, produk ini mendapatkan perhatian dari pengunjung, baik dari kalangan akademisi, mahasiswa, maupun mitra industri. Kehadiran mesin ini menunjukkan komitmen Universitas Teknokrat Indonesia dalam mendorong lahirnya inovasi berbasis teknologi digital yang relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Rektor <a href=\"http:\/\/www.teknokrat.ac.id\">Universitas Teknokrat Indonesia<\/a>, Dr. HM. Nasrullah Yusuf memberikan apresiasi tinggi atas capaian mahasiswa dan dosen pembimbing dalam menghasilkan inovasi Mesin Pencacah Pupuk Berbasis IoT ini. Menurutnya, karya tersebut mencerminkan kualitas pendidikan, riset, dan inovasi yang terus dikembangkan di Universitas Teknokrat Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cKami sangat bangga atas prestasi mahasiswa Teknik Komputer yang mampu menghasilkan produk inovatif berbasis IoT dan berhasil masuk dalam program hilirisasi nasional. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa Teknokrat tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menciptakan solusi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat,\u201d ujar Rektor.<\/p>\n<p>Rektor juga berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan hingga siap diimplementasikan secara luas dan menjadi produk unggulan universitas. Selain itu, capaian ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa melalui teknologi.<\/p>\n<p>Dengan lahirnya Mesin Pencacah Pupuk Berbasis IoT ini, <a href=\"http:\/\/www.teknokrat.ac.id\">Universitas Teknokrat Indonesia<\/a> kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif mendorong riset terapan, hilirisasi teknologi, dan inovasi berkelanjutan berbasis kebutuhan masyarakat.<\/p>\n<p>Adapun <a href=\"http:\/\/www.teknokrat.ac.id\">Universitas Teknokrat Indonesia<\/a> mengusung konsep Kampus Inovatif, Berdampak, dan Berkelanjutan (KIBB) menekankan peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan yang kreatif, relevan, dan berwawasan lingkungan. Kampus fokus pada penelitian aplikatif, pemecahan masalah masyarakat (sosial, ekonomi, teknologi), serta menjaga keberlanjutan kualitas pendidikan, riset, dan pengabdian, seperti yang diterapkan di Universitas Teknokrat Indonesia dan inisiatif Kampus Berdampak Kemdiktisaintek. Program ini merupakan kelanjutan dari Kampus Merdeka yang bertujuan agar perguruan tinggi menjadi pusat solusi bagi permasalahan kompleks di masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (Lampost.co) \u2013 Inovasi teknologi kembali lahir dari lingkungan akademik. Mahasiswa Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Teknokrat Indonesia, kampus terbaik di Lampung berhasil mengembangkan Mesin Pencacah Pupuk Berbasis Internet of Things (IoT) sebagai solusi cerdas untuk mendukung pengelolaan limbah organik dan produksi pupuk yang lebih efisien dan berkelanjutan. Karya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":1875,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"5","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[627,628,666],"tags":[8,852,901,900,156,859],"class_list":["post-1874","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akademik","category-humaniora","category-mahasiswa","tag-humaniora","tag-inovasi-mahasiswa","tag-karya-mahasiswa","tag-mahasiswa-teknokat","tag-pendidikan","tag-universitas-teknokat-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1874","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1874"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1874\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1875"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1874"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1874"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1874"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}