{"id":2637,"date":"2026-05-18T18:19:05","date_gmt":"2026-05-18T18:19:05","guid":{"rendered":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/?p=2637"},"modified":"2026-05-18T18:19:05","modified_gmt":"2026-05-18T18:19:05","slug":"sinergi-teori-dan-industri-mahasiswa-teknik-sipil-universitas-teknokrat-indonesia-evaluasi-mutu-beton-masjid-al-hijrah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/2026\/05\/18\/sinergi-teori-dan-industri-mahasiswa-teknik-sipil-universitas-teknokrat-indonesia-evaluasi-mutu-beton-masjid-al-hijrah\/","title":{"rendered":"Sinergi Teori dan Industri: Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia Evaluasi Mutu Beton Masjid Al-Hijrah"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kota Baru (Lampost.co)<\/strong>\u2013Dunia teknik sipil tidak pernah sekadar tentang mencoret kertas di atas meja gambar atau memandangi deretan angka di layar monitor. Esensi sejati dari ilmu rekayasa infrastruktur ini terletak pada bagaimana teori-teori mekanika, material, dan analisis struktur diaplikasikan secara nyata di lapangan.<\/p>\n<p>Menyadari pentingnya penyelarasan antara bangku kuliah dan realitas industri, mahasiswa Program Studi S1 Teknik Sipil <a href=\"http:\/\/www.teknokrat.ac.id\/\">Universitas Teknokrat Indonesia (UTI)<\/a><strong>, <\/strong>kampus terbaik di Lampung<strong>,<\/strong> menggelar kegiatan kuliah lapangan pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan yang edukatif sekaligus kontributif ini dipusatkan di Masjid Al-Hijrah Kota Baru, Lampung.<\/p>\n<p>Kuliah lapangan kali ini bukan sekadar kunjungan biasa melainkan pelaksanaan kegiatan aplikatif yang mengintegrasikan teori dari beberapa mata kuliah sekaligus. Dengan didampingi langsung Ketua Program Studi S1 Teknik Sipil UTI, Dr. Ir. Lilik Ariyanto, S.T., M.T., IPM ASEAN Eng., serta para dosen ahli seperti Ir. Kastamto, S.T., M.T., Sefrinta Sasma Murdiagatma, S.T., M.T., dan Rahma Sopilawati, S.Ars., M.T., fokus utama para mahasiswa adalah melakukan evaluasi teknis terhadap kualitas struktural bangunan masjid yang saat ini sedang dalam tahap pengembangan.<\/p>\n<h3><strong>Metode Non-Destructive Test Jadi Opsi Rasional<\/strong><\/h3>\n<p>Dalam manajemen siklus hidup bangunan, beton merupakan material vital yang memikul beban utama struktur. Namun, performa beton di lapangan tidak selalu sama persis dengan perencanaan di laboratorium. Faktor-faktor riil seperti kualitas pencampuran (<em>mixing<\/em>), proses penuangan, metode pemadatan, hingga evaluasi cuaca saat pengerasan (<em>curing<\/em>) sangat memengaruhi kuat tekan akhir beton.<\/p>\n<p>Untuk mengetahui apakah beton yang sudah mengeras dan terpasang memenuhi spesifikasi struktural, insinyur memiliki dua pilihan metode pengujian: <em>destructive<\/em> (merusak) seperti <em>core drill<\/em> (pengeboran inti), atau <em>non-destructive<\/em> (tanpa merusak).<\/p>\n<p>Pengujian merusak dengan mengambil sampel silinder langsung dari elemen struktur tentu berisiko melemahkan kapasitas komponen bangunan tersebut, apalagi pada bangunan religius yang aktif seperti Masjid Al-Hijrah. Oleh karena itu, metode <em>Non-Destructive Test<\/em> (NDT) menggunakan alat <em>Concrete Rebound Hammer<\/em> atau <em>Hammer Test<\/em> menjadi opsi yang paling rasional, cepat, dan efisien. Misi para mahasiswa sangat jelas, yaitu menentukan nilai mutu beton yang telah terpasang (<em>existing<\/em>) guna memastikan rumah ibadah ini memiliki tingkat keamanan yang prima untuk jangka panjang.<\/p>\n<h3><strong>Tiga Tahapan Sistematis Uji Palu Beton<\/strong><\/h3>\n<p>Dipandu dosen pembimbing dan asisten laboratorium, mahasiswa Teknik Sipil Teknokrat membagi diri ke dalam beberapa tim fungsional. Mereka menyasar elemen-elemen struktural vital pada bangunan Masjid Al-Hijrah, seperti kolom utama, balok penopang, dan sebagian pelat lantai.<\/p>\n<p>Secara ilmiah, <em>Hammer Test<\/em> bekerja berdasarkan prinsip lenturan atau pantulan mekanis. Alat ini menembakkan sebuah massa yang digerakkan energi pegas standar ke permukaan beton yang rata. Ketika massa tersebut memantul kembali, alat akan mencatat jarak pantulan tersebut dalam skala numerik yang dikenal sebagai <em>Rebound Number<\/em> (Nilai R).<\/p>\n<p>Berdasarkan kegiatan di lapangan, para mahasiswa melaksanakan pengujian Hammer Test melalui tiga tahapan sistematis yang dilakukan secara berurutan dan presisi:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Tahap 1: Preparasi Permukaan Beton<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Mahasiswa membersihkan permukaan elemen struktur (kolom, balok, pelat lantai) dari lapisan plesteran, sisa semen, cat, atau kotoran menggunakan batu gerinda. Langkah ini sangat krusial karena permukaan beton harus benar-benar rata, bersih, dan masif agar energi pantulan alat tidak teredam oleh lapisan luar yang rapuh.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Tahap 2: Pembuatan Grid Penembakan<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Mahasiswa membuat pola garis-garis pembatas atau matriks berukuran sekitar 10 x 10 cm hingga 15 x 15 cm pada area uji. Di dalam area <em>grid<\/em> tersebut, ditentukan 10 hingga 12 titik penembakan spesifik dengan jarak antar-titik minimal 25 mm, guna memastikan sebaran data yang representatif dan menghindari hantaman berulang pada titik yang sama.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Tahap 3: Penembakan dan Pencatatan Data<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Alat <em>Concrete Rebound Hammer<\/em> ditekan secara tegak lurus (90 derajat) dan stabil terhadap permukaan titik uji hingga pegas internalnya terlepas dan menembakkan massa ke beton. Sesaat setelah dentuman pegas terjadi, mahasiswa langsung membaca indikator <em>Rebound Number<\/em> (Nilai R) yang muncul pada skala alat, lalu mencatatnya secara cermat.<\/p>\n<h3><strong>Analisis Data Mekanika Pasca-Pengujian<\/strong><\/h3>\n<p>Data lapangan yang diperoleh berupa deretan angka <em>Rebound Number<\/em> tidak serta-merta langsung menunjukkan kuat tekan beton. Di sinilah letak pembelajaran penting bagi mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia. Mereka dituntut untuk melakukan analisis statistika sederhana dan konversi mekanika pasca-pengujian.<\/p>\n<p>Berdasarkan standar ASTM C805 atau SNI 4431:2011, nilai pantulan yang terlalu ekstrem (terlalu tinggi karena mengenai agregat keras, atau terlalu rendah karena mengenai rongga udara) harus dieliminasi dari perhitungan rata-rata. Setelah mendapatkan nilai rata-rata <em>Rebound Number<\/em> yang valid, mahasiswa mengonversikannya menggunakan grafik kalibrasi bawaan alat untuk memproyeksikan nilai kuat tekan karakteristik beton dalam satuan Megapaskal (MPa) atau kilogram per sentimeter persegi.<\/p>\n<p>Melalui konversi ini, mahasiswa dapat menilai apakah kolom dan balok di Masjid Al-Hijrah sudah mencapai mutu yang direncanakan, misalnya $f&#8217;_c$ 25 MPa (setara K-300) yang umum digunakan untuk struktur bangunan bertingkat menengah, atau justru berada di bawah ambang batas aman.<\/p>\n<h3><strong>Implementasi Project-Based Learning dan Dampak Sosial<\/strong><\/h3>\n<p>Kegiatan kuliah lapangan ini merefleksikan implementasi nyata dari konsep <em>Project-Based Learning<\/em> (PBL). Bagi mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia, pengalaman langsung memegang alat, merasakan tekanan pegas, dan mengatasi kendala teknis di lapangan\u2014seperti keterbatasan ruang tembak atau permukaan beton yang tidak seragam\u2014memberikan sensitivitas profesional (<em>engineering sense<\/em>) yang tidak akan pernah bisa didapatkan hanya dengan membaca buku teks di ruang kelas.<\/p>\n<p>Di sisi lain, kegiatan ini membawa dampak sosial yang masif bagi masyarakat sekitar. Hasil uji evaluasi mutu beton yang disusun secara ilmiah oleh para mahasiswa ini nantinya akan diserahkan dalam bentuk laporan teknis formal kepada pengurus Masjid Al-Hijrah. Laporan ini akan menjadi dokumen rekomendasi yang sangat berharga bagi pihak takmir masjid untuk menentukan langkah renovasi, pemeliharaan, atau peningkatan kapasitas beban bangunan di masa mendatang demi keselamatan dan kenyamanan para jemaah dalam beribadah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota Baru (Lampost.co)\u2013Dunia teknik sipil tidak pernah sekadar tentang mencoret kertas di atas meja gambar atau memandangi deretan angka di layar monitor. Esensi sejati dari ilmu rekayasa infrastruktur ini terletak pada bagaimana teori-teori mekanika, material, dan analisis struktur diaplikasikan secara nyata di lapangan. Menyadari pentingnya penyelarasan antara bangku kuliah dan realitas industri, mahasiswa Program Studi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":2638,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"5","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":"Kuliah lapangan kali ini bukan sekadar kunjungan biasa melainkan pelaksanaan kegiatan aplikatif yang mengintegrasikan teori dari beberapa mata kuliah sekaligus."},"jnews_primary_category":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[627,5,666,1021],"tags":[1229,1231,1224,1230,836,1227,239,1226,1225,1228,1078,1001,1219,44],"class_list":["post-2637","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akademik","category-berita","category-mahasiswa","category-teknologi","tag-beton-existing","tag-civil-engineering","tag-hammer-test","tag-infrastruktur-lampung","tag-kota-baru-lampung","tag-kuliah-lapangan","tag-masjid-al-hijrah","tag-mutu-beton","tag-non-destructive-test","tag-project-based-learning","tag-teknik-sipil","tag-teknik-sipil-teknokrat","tag-teknokrat-sang-juara","tag-universitas-teknokrat-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2637","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2637"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2637\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2639,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2637\/revisions\/2639"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2638"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2637"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2637"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/teknokrat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2637"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}