{"id":9026,"date":"2025-02-04T11:45:26","date_gmt":"2025-02-04T11:45:26","guid":{"rendered":"https:\/\/lampost.co\/microsite\/universitaslampung\/?p=9026"},"modified":"2025-02-04T11:45:26","modified_gmt":"2025-02-04T11:45:26","slug":"mahasiswa-kkn-ubah-limbah-jadi-berkah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/2025\/02\/04\/mahasiswa-kkn-ubah-limbah-jadi-berkah\/","title":{"rendered":"Mahasiswa KKN Ubah Limbah jadi Berkah"},"content":{"rendered":"<p><strong>Unila (Lampost.co)<\/strong>&#8211;Kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung (Unila) menggelar program pemanfaatan kotoran kambing menjadi pupuk kompos di Desa Srimenanti, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Lampung Utara, Selasa, 4 Februari 2025, di pekarangan rumah Sunardi, Ketua RT 03 Dusun 2 Proyek Desa Srimenanti.<\/p>\n<p>Inovasi ini diprakarsai tim KKN yang terdiri dari Ali Ramadhan, Sherly Ayu Damayanti, Angel Fristi, Harista Syafira Aziza, Vera Maria Margaretha Sihotang, Shannen Dravine Rudico, dan Aisyah Ramadhani dengan bimbingan Dr. La Zakaria, S.Si., M.Sc.<\/p>\n<p>Ali Ramadhan, selaku penanggung jawab program kerja menjelaskan alasan pemilihan program pembuatan pupuk kompos dari kotoran kambing. \u201cMayoritas masyarakat di Desa Srimenanti adalah peternak kambing dan petani. Oleh karena itu, kami ingin membantu mereka dalam mengelola limbah ternak menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Selain itu, pupuk kompos dapat meningkatkan kualitas tanah, mendukung pertanian organik, serta mudah dibuat dan diterapkan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ali juga menjabarkan proses pembuatan pupuk kompos yang dimulai dari persiapan alat dan bahan seperti ember, air, EM4, molase atau larutan gula merah, kohe (kotoran hewan), dedaunan, serta drum atau wadah.<\/p>\n<p>\u201cPertama, kami membuat larutan dari EM4, gula merah, dan air. Kemudian, dalam wadah, kohe disiram dengan larutan tersebut lalu ditumpuk dengan dedaunan. Proses ini diulang hingga drum penuh, dan untuk hasil fermentasinya sebulan lagi baru jadi,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Antusiasme masyarakat terhadap program ini juga sangat tinggi. \u201cWarga dan aparat desa sangat bersemangat mengikuti proses pembuatan pupuk kompos ini. Bahkan, alat dan bahan sebagian besar disiapkan oleh pihak desa, sehingga hasilnya bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat,\u201d ungkapnya<\/p>\n<p>Manfaat utama pupuk kompos dibandingkan pupuk kimia sangatlah berbeda, pupuk kompos lebih ramah lingkungan, tidak menyebabkan kerusakan tanah, dan mendukung pertanian organik<\/p>\n<p>Sebelum adanya program ini, Sunardi mengaku bahwa kotoran kambing hanya dibiarkan atau dijual kepada pihak lain yang membutuhkannya. Ia pernah mencoba membuat pupuk kompos sebelumnya, tetapi terhenti karena keterbatasan lahan.<\/p>\n<p>Dengan adanya program ini, Sunardi mengaku sangat antusias karena manfaatnya besar bagi petani dan peternak di Desa Srimenanti.<\/p>\n<p>\u201cTentu sangat bermanfaat, karena di desa ini banyak peternak kambing dan petani. Kotoran kambing bisa digunakan untuk membuat kompos, yang jauh lebih baik dibanding pupuk kimia. Prosesnya lebih singkat, hanya dalam sebulan sudah terlihat hasilnya, sedangkan pupuk kimia butuh waktu sekitar tiga bulan,\u201d tutur Sunardi.<\/p>\n<p>Namun, Sunardi juga mengakui tantangan utama dari produksi pupuk kompos adalah keterbatasan lahan untuk penyimpanannya. Meskipun begitu, ia berencana membagikan pupuk kompos yang dihasilkan kepada masyarakat sekitar.<\/p>\n<p>\u201cNanti apabila pupuk komposnya sudah jadi, insyaallah akan dibagikan ke masyarakat entah satu orang seember atau bagaimana, karena menolong orang itu jangan tanggung-tanggung, harus totalitas,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Binton Butar-butar, Kaur Umum Desa Srimenanti, mengapresiasi program ini dan menilai bahwa inovasi ini berpotensi untuk dimasukkan dalam agenda pembangunan desa. Melihat harga pupuk yang semakin mahal, pemanfaatan pupuk kompos dari kotoran kambing ini juga bisa menjadi alternatif yang ekonomis bagi masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cProgram ini bukan sekadar bagus, tapi sangat bagus. Kalau diterapkan secara berkelanjutan, bisa menjadi solusi bagi petani dan peternak di desa ini. Namun, tantangannya ada pada SDM. Apakah mereka mau menerapkan ilmu yang telah diberikan? Itu yang perlu kita lihat,\u201d tandasnya<\/p>\n<p>Dengan adanya dukungan dari pemerintah desa dan masyarakat, inovasi ini berpotensi memberikan dampak positif bagi pertanian dan peternakan di Desa Srimenanti. Harapannya, program ini bisa terus dikembangkan dan menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan di tingkat desa. [Magang_Vera Sihotang]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Unila (Lampost.co)&#8211;Kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung (Unila) menggelar program pemanfaatan kotoran kambing menjadi pupuk kompos di Desa Srimenanti, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Lampung Utara, Selasa, 4 Februari 2025, di pekarangan rumah Sunardi, Ketua RT 03 Dusun 2 Proyek Desa Srimenanti. Inovasi ini diprakarsai tim KKN yang terdiri dari Ali Ramadhan, Sherly Ayu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9027,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[2,1724],"tags":[1102,453],"class_list":["post-9026","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-terkini","category-kabar-kkn","tag-kkn-unila","tag-pengolahan-limbah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9026","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9026"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9026\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9026"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9026"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/microweb\/universitaslampung\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9026"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}