Jakarta (Lampost.co) — Tanah longsor tercatat sebagai bencana paling mematikan di Indonesia sepanjang 2025. Data tersebut berdasarkan rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Poin Penting:
-
Tanah longsor menjadi bencana paling mematikan sepanjang 2025.
-
November 2025 menjadi puncak bencana longsor.
-
Kerusakan lingkungan memperparah risiko terjadinya tanah longsor.
BNPB mencatat lonjakan signifikan kejadian longsor, baik dari sisi frekuensi maupun jumlah korban jiwa. Bahkan, tanpa menghitung dampak Siklon Sinyar, longsor tetap menjadi penyebab kematian tertinggi.
Kepala Pusat Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut hampir seluruh wilayah Indonesia terdampak longsor besar sepanjang 2025.
Baca juga: BNPB: Korban Banjir dan Longsor Sumatra Tembus 1.000
“Jika tidak ada Siklon Sinyar, tanah longsor menjadi bencana paling mematikan sepanjang 2025,” ujar Abdul Muhari, Kamis, 1 Januari 2026.
Menurutnya, rangkaian bencana longsor terjadi sejak awal tahun dengan skala besar dan korban signifikan. Pada Januari 2025, longsor di Petungkriyono, Pekalongan, menewaskan 25 orang. Kemudian, Maret 2025, longsor di Sukabumi merenggut sembilan korban jiwa. Selanjutnya, April 2025, longsor di Mojokerto menyebabkan 10 orang meninggal dunia.
Tragedi berlanjut pada Mei 2025 di Gunung Kuda, lokasi tambang pasir di Jawa Barat. Peristiwa tersebut menewaskan 21 orang. Selain itu, longsor di Pegunungan Arfak, Papua Barat, juga menelan 16 korban jiwa. Rangkaian kejadian ini menunjukkan eskalasi risiko bencana longsor nasional.
Namun, BNPB mencatat puncak bencana terjadi pada November 2025. Bulan tersebut menjadi periode paling mematikan sepanjang tahun. “November menjadi bulan dengan frekuensi dan dampak bencana tertinggi selama 2025,” kata Abdul Muhari.
Pada bulan itu, longsor di Cilacap menewaskan 21 orang. Kemudian, longsor di Banjarnegara menyebabkan 17 orang meninggal dan 11 lainnya hilang.
Sementara itu, longsor di Induga, Papua, menelan 23 korban jiwa dan 15 orang masih hilang. BNPB menilai dampak tersebut sangat serius.
Faktor Lingkungan
BNPB menegaskan pemicu tingginya korban tidak hanya hujan ekstrem. Faktor lingkungan menjadi penyebab utama meningkatnya risiko longsor.
Penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan memperparah kondisi kelerengan. Akibatnya, wilayah rawan longsor semakin luas.
“Kondisi lereng sudah sangat rentan. Kita harus meninjau ulang tata ruang dan peruntukan lahan,” kata Abdul Muhari.
Ia menilai pembangunan tanpa kajian lingkungan mempercepat kerusakan ekosistem. Oleh karena itu, perlu segera memperkuat mitigasi struktural.
BNPB juga mendorong pemerintah daerah meningkatkan pemetaan wilayah rawan longsor. Selain itu, memperluas edukasi kebencanaan hingga tingkat desa.
Abdul Muhari menegaskan pengurangan risiko longsor perlu menjadi prioritas nasional. Fokus tidak boleh hanya tertuju pada banjir. “Selain banjir, kita juga harus sangat fokus mengurangi potensi longsor,” ujarnya.
BNPB berharap langkah antisipatif dapat menekan korban jiwa pada tahun mendatang. Upaya mitigasi lebih murah daripada penanganan bencana.








