Bandar Lampung (Lampost.co) — Kehidupan di bumi pernah mengalami fase paling ekstrem dalam sejarahnya. Pada periode tertentu, hampir seluruh permukaan planet tertutup es tebal. Kondisi itu sebagai Snowball Earth atau Bumi Bola Salju.
Penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan. Suhu laut saat itu ternyata jauh lebih dingin dari perkiraan sebelumnya. Meski ekstrem, kehidupan tetap bertahan dan terus berevolusi.
Zaman Es Cryogenian dan Lautan Super Dingin
Sekitar 700 juta tahun lalu, Bumi memasuki periode Cryogenian. Lapisan es menutupi daratan dan samudra hingga ratusan meter.
Ilmuwan mencatat lautan tidak membeku sepenuhnya. Air laut tetap menyimpan panas meski berada dalam kondisi ekstrem.
Studi yang Nature Communications publikasikan memperkirakan suhu laut mencapai minus 15 derajat Celcius. Angka itu sekitar 12 derajat lebih dingin dari suhu laut terdingin saat ini.
Kandungan Garam Jadi Kunci Lautan Tidak Membeku
Selain suhu ekstrem, peneliti juga menemukan fakta penting lain. Tingkat salinitas laut pada masa itu mencapai empat kali lipat dari kondisi modern.
Kadar garam yang sangat tinggi memungkinkan air laut tetap cair. Kombinasi suhu rendah dan salinitas tinggi menciptakan lingkungan ekstrem tanpa pembekuan total.
Kondisi itu memaksa semua organisme laut hidup dalam tekanan lingkungan yang jauh lebih berat dari dugaan sebelumnya.
Jejak Misterius di Endapan Batuan Laut
Penelitian itu bermula dari analisis endapan besi pada batuan laut purba. Lapisan karat tersebut menunjukkan ukuran partikel yang jauh lebih besar dari periode lain.
Para ilmuwan menilai ukuran partikel itu berkaitan langsung dengan suhu laut yang sangat dingin. Perhitungan geokimia menunjukkan suhu minus 15 derajat sebagai penjelasan paling masuk akal.
Alternatif lain seperti erosi gletser dan aktivitas hidrotermal telah diuji. Hasilnya, faktor tersebut tidak cukup menjelaskan anomali yang ditemukan.
Bagaimana Kehidupan Bisa Bertahan?
Pertanyaan besar pun muncul. Bagaimana kehidupan mampu bertahan di laut sedingin itu?
Salah satu teori menyebut organisme beradaptasi dengan oksigen terbatas dan minim cahaya. Mikroba hidup di sekitar lubang hidrotermal yang kaya energi kimia.
Teori lain menyatakan kehidupan bertahan di kolam air lelehan di atas lapisan es. Lingkungan itu mirip dengan kondisi ekstrem di Antartika saat ini.
Beberapa organisme modern seperti sianobakteri dan alga terbukti mampu hidup di es McMurdo. Temuan itu mendukung kemungkinan adaptasi serupa di masa lalu.
Bertahan di Tepi Es dan Air Asin Ekstrem
Pilihan lain bagi organisme purba adalah berpindah ke tepi es. Air lelehan di bawah es mengandung oksigen yang mendukung kehidupan.
Namun, lingkungan tersebut tetap sangat ekstrem. Air asin dingin seperti di Danau Vida, Antartika, menjadi analog alami kondisi Cryogenian.
Bakteri modern di lokasi tersebut membuktikan kehidupan bisa bertahan di suhu rendah dan salinitas tinggi.
Zaman Es yang Mengubah Arah Evolusi
Penelitian itu memperkuat pemahaman tentang betapa ekstremnya periode Cryogenian. Tekanan lingkungan yang tinggi justru membuka jalan bagi lonjakan keanekaragaman hayati setelah zaman es berakhir.
Kehidupan yang mampu bertahan menjadi fondasi evolusi organisme kompleks di masa berikutnya. Fakta itu membuat sejarah awal kehidupan Bumi semakin menakjubkan.








