
Akademisi FEB Unila
ADANYA keinginan Gubernur Lampung menjadikan Provinsi Lampung sebagai tempat pengembangan Bioethanol perlu disikapi dengan bijak. Kebutuhan energi dimasa datang sangat tinggi mengingat sebagian besar aktivitas ekonomi yang meningkat. Saat ini penggunaan energi dari bahan fosil masih sangat tinggi, akan tetapi dalam jangka panjang tidak bisa dijadikan sebagai sumber utama. Sudah banyak alternatif lainnya yang dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan (renewable energy) baik dari dalam alam (seperti energi panas bumi, energi matahari, energi angin, dan lainnya) dan energi dari tanaman (seperti biodisel dan bioethanol).
Perubahan penggunaan energi terbarukan tidak mudah, tentunya akan ada kendala dalam peralatan, fasilitas, harga, trade off, dan kebijakan pemerintah. Banyak peralatan yang digunakan baik masyarakat dan perusahaan menggunakan bahan bakar yang lama. Begitu juga dengan fasilitas pendukung jika terjadi perubahan penggunaan bahan bakar akan membutuhkan investasi yang cukup besar untuk memenuhinya. Biaya produksi energi terbarukan saat ini masih relatif lebih mahal daripada biaya energi non terbarukan, sehingga berpengaruh terhadap harga jualnya.
Energi terbarukan dari tanaman dapat juga menjadi trade off dari pemanfaatan sebagai tanaman pangan, dan jangan sampai mengganggu pasokan kebutuhan pangan itu sendiri. Terakhir adalah arah kebijakan dalam pemanfaatan energi terbarukan yang belum jelas, akan mengarah pada sumber daya alam yang terbarukan, dari tanaman, dan ataukan keduanya.
Pengembangan energi terbarukan yang berasal dari bioethanol sangat berpotensi di Provinsi Lampung. Bioethanol dari diproses dari beberapa jenis tanaman yang memang berlimpah, seperti: singkong, tebu, jagung, dan sawit. Lampung sebelumnya sudah pernah memiliki pabrik bioethanol dengan memanfaatkan tanaman singkong. Adanya pabrik bioethanol tersebut pernah membuat harga singkong menjadi lebih tinggi, akibat adanya trade off pada pabrik tapioka.
Kenaikan ini memberikan manfaat yang besar untuk petani singkong, tetapi menjadi beban bagi pengusaha ethanol dan tapioka. Banyak pabrik tapioka masih bisa bertahan karena memiliki juga lahan tanaman tapioka sendiri, serta sudah paham akan naik turunnya harga singkong. Sedangkan bagi pabrik bioethanol membuat biaya produksi mahal sehingga harga jual tinggi. Akibatnya pabrik bioethanol tutup usahanya.
Provinsi Lampung dikenal juga sebagai daerah penghasil gula yang berasal dari tebu. Kebutuhan gula setiap tahunnya meningkat, memicu tingginya harga gula. Tingginya harga gula menjadi daya tarik pengusaha gula untuk memperluas lahan tebunya guna memenuhi permintaan gula. Disisi lain luasan areal perkebunan swasta sulit untuk bertambah. Potensi ini bisa menjadi alternatif bagi petani singkong untuk menjadi mitra perusahaan gula.
Begitu juga dengan tanaman jagung. Lampung menjadi sentra bagi pakan ternak di Indonesia, terdapat beberapa jenis perusahaan pakan ternak yang ada di sini baik skala internasional dan nasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu pemicu harga ternak seperti ayam dan telur naik. Kenaikan ini juga berdampak pada permintaan pakan ternak, yaitu jagung.
Jika pemerintah Provinsi Lampung menarik investor bioethanol guna mendongkrak harga singkong, maka kebijakan tersebut kurang tepat. Pemda dapat mendorong petani singkong untuk bermitra dengan perusahaan gula ataupun pakan ternak untuk beralih ketanaman tebu atau jagung. Jikapun kebutuhan cukup berlimpah, barulah hasil tanaman tersebut dapat diolah mejadi bioethanol.
Alternatif lain yang mungkin bisa digunakan sebagai bahan bioethanol adalah buah sawit. Selain biodisel, buah sawitpun bisa dimanfaatkan menjadi bioethanol. Akan tetapi produk turunan sawit sudah sangat banyak hingga mendekati 200 jenis. Permintaannya masih tinggi dan harga tandan buah segar (tbs) masih cukup tinggi. Walaupun bioethanol tidak membutuhkan buah sawit yg segar, tetap membuat bioethanol dari sawit harganya tinggi.








