Jakarta (Lampost.co) — Pasar otomotif Indonesia memasuki fase berat sepanjang 2025. Penjualan mobil nasional anjlok dan mencatat level terendah dalam lima tahun terakhir. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) membeberkan sejumlah faktor utama yang menekan pasar.
Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menyebut kondisi ekonomi nasional menjadi penyebab awal pelemahan penjualan. Daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya sehingga konsumen menunda pembelian mobil. “Masyarakat kini lebih fokus pada kebutuhan pokok daripada barang tersier,” kata Putu.
Faktor kedua yang paling menentukan datang dari sektor pembiayaan. Pasar otomotif Indonesia sangat bergantung pada kredit kendaraan. Bahkan, lebih dari 70 persen mobil terjual melalui skema pembiayaan. Namun, lembaga pembiayaan mengetatkan syarat sehingga penjualan langsung tertekan.
Gaikindo juga menyoroti kebijakan opsen atau tambahan pajak daerah. Penerapan opsen di sejumlah wilayah berpotensi menaikkan harga mobil. “Kondisi ini membuat konsumen semakin berhitung sebelum membeli kendaraan baru,” ujar dia.
Selain itu, Gaikindo menyoroti masuknya kendaraan tertentu tanpa standar homologasi. Dia menilai impor truk untuk penggunaan khusus seharusnya tetap mengikuti aturan teknis. Ketidakpatuhan itu berpotensi mengganggu ekosistem industri otomotif nasional.
Data Gaikindo menunjukkan distribusi mobil dari pabrik ke dealer atau wholesales periode Januari hingga November 2025 mencapai 710.084 unit. Angka itu turun 9,6 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya 785.917 unit.
Penjualan ritel dari dealer ke konsumen juga melemah. Retail sales sepanjang 11 bulan pada 2025 tercatat 739.977 unit. Pada periode yang sama tahun lalu, penjualan ritel menembus 807.586 unit. Penurunan itu mencapai 8,4 persen.
Tren Penjualan Mobil 5 Tahun Terakhir
Berdasarkan tren lima tahun terakhir, kinerja 2025 menjadi yang terburuk. Tercatat pada 2021 wholesales mencapai 887.202 unit. Angka melonjak pada 2022 menjadi 1.048.040 unit. Namun, pada 2023 turun ke 1.005.802 unit dan melemah lagi pada 2024 menjadi 865.723 unit.
Gaikindo menilai pemulihan pasar otomotif membutuhkan perbaikan ekonomi, pembiayaan yang lebih longgar, serta kebijakan pajak yang ramah konsumen. Tanpa langkah strategis, tekanan penjualan mobil bisa berlanjut pada awal 2026.








