Bandar Lampung (lampost.co)–Angka inflasi Provinsi Lampung pada Maret 2026 tercatat terkendali di level 1,16 persen (yoy). Pengamat ekonomi dari Universitas Lampung (Unila), Marselina Djayasinga, mengingatkan pemerintah untuk tetap melakukan mitigasi demi menjaga daya beli.
Menurutnya, angka yang berada dalam batas toleransi Bank Indonesia (BI) tersebut tidak serta-merta menunjukkan penguatan ekonomi, melainkan adanya indikasi penurunan daya beli. Marselina menjelaskan bahwa tren rendahnya inflasi kali ini lebih terpengaruh oleh faktor sosiogratis pasca-euforia Idulfitri.
Masyarakat cenderung mengerem konsumsi akibat pendapatan yang menurun dan angka pengangguran yang masih menjadi tantangan. “Angka inflasi yang rendah ini bukan semata-mata karena ekonomi membaik, tetapi lebih kepada daya beli yang turun. Usai Idulfitri, masyarakat cenderung membatasi belanja. Kemudian, ada potensi penurunan anggaran belanja pemerintah,” ujar Marselina, Kamis, 2 April 2026.
Lebih lanjut, Marselina mengingatkan pemerintah daerah untuk tidak lengah terhadap kondisi geopolitik global. Meskipun dampak perang tidak langsung terasa pada stok di gudang saat ini, gangguan pada rantai pasok global pasti akan menekan sisi suplai di masa mendatang.
Salah satu sektor yang paling rentan adalah pertanian. Marselina menyoroti kenaikan harga pupuk yang dipicu konflik global, yang lambat laun akan berdampak pada komoditas pangan lokal seperti cabai dan bawang merah.
“Kondisi perang akan berdampak pada suplai. Saat ini kita mungkin masih aman karena stok lama di toko dan gudang masih tersedia, namun mitigasi harus dilakukan sejak dini. Pupuk yang mahal akan memukul petani cabai dan bawang kita,” jelasnya.
Dalam analisisnya, Marselina menekankan pentingnya menjaga kelancaran penyaluran barang. Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) memegang peranan krusial sebagai urat nadi distribusi di Lampung. Jika penyaluran terhambat, risiko lonjakan harga akibat kelangkaan barang sangat mungkin terjadi.
Ia mengimbau pemerintah untuk memperbanyak stok barang guna mencegah aksi panic buying di masyarakat. Selain itu, faktor cuaca ekstrem yang tidak menentu juga menjadi variabel yang dapat mengubah angka inflasi secara mendadak.
“Mitigasi dari sisi suplai sangat penting. Stok barang harus lebih banyak. Penyaluran jangan sampai tersendat. Perbankan juga harus tetap konsisten menyalurkan kredit kepada para produsen agar aktivitas produksi tetap berjalan,” tambahnya.
Marselina menyimpulkan bahwa meskipun angka inflasi saat ini terlihat aman, kondisi tersebut sangat tidak stabil. Pemerintah Provinsi Lampung sebaiknya memantau intensif, baik harian hingga bulanan untuk merespons perubahan pasar secara cepat.








