Jakarta (Lampost.co): Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan rencana kenaikan dana riset nasional hingga mencapai Rp12 triliun. Pemerintah akan mengarahkan tambahan anggaran tersebut untuk memperkuat riset di sektor pangan, ketahanan energi, dan pengembangan industri strategis.
Arif Satria menegaskan bahwa kebijakan tersebut mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan sektor pangan sebagai prioritas utama. Menurut Arif, Indonesia telah mencapai swasembada beras dan segera menyusul swasembada jagung. Pemerintah juga memfokuskan riset pada komoditas strategis lain, seperti bawang putih, kedelai, serta produk protein hewani, termasuk susu dan sapi.
Arif menyampaikan pernyataan tersebut saat menjawab pertanyaan wartawan usai mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan para rektor dan guru besar perguruan tinggi negeri maupun swasta di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/1).
Arif menjelaskan bahwa Presiden Prabowo menyatakan komitmen menaikkan anggaran penelitian sekitar 50 persen dari pagu saat ini. Adapun kisarannya Rp8 triliun atau sekitar 0,3 persen dari produk domestik bruto. Dengan kebijakan tersebut, pemerintah menyiapkan tambahan dana riset sekitar Rp4 triliun.
Arif menilai peningkatan anggaran riset akan memperkuat dukungan terhadap berbagai program strategis nasional. Mulai dari peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, hingga perluasan lapangan kerja.
Ia juga menekankan peran penting riset dalam menopang proyek-proyek strategis hilirisasi. Arif menyebut riset pangan sebagai prioritas utama untuk memperkokoh ketahanan pangan nasional.
Selain sektor pangan, Arif menyoroti pentingnya riset ketahanan dan transisi energi. Pemerintah, kata dia, mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan guna menekan ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.
Alokasi
Arif menambahkan bahwa pemerintah akan mengalokasikan dana riset untuk memperkuat industri strategis, baik industri berbasis teknologi tinggi maupun industri padat karya. Ia mencontohkan industri tekstil, sepatu, elektronik, dan semikonduktor. Hal itu adalah sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan membutuhkan dukungan riset agar tetap berdaya saing.
Arif menegaskan bahwa industri-industri padat karya tersebut harus bertahan dan berkembang karena sektor tersebut menyerap tenaga kerja secara signifikan serta berperan penting dalam memperkuat daya saing nasional.
Selain itu, Arif menyampaikan bahwa BRIN tengah menyiapkan penguatan riset di sektor dirgantara. Ia menyebut percepatan riset pesawat N219 hasil kerja sama BRIN dengan PT Dirgantara Indonesia, serta pengembangan pesawat amfibi untuk memperkuat konektivitas antarpulau.
Arif menilai pengembangan pesawat amfibi akan memberikan manfaat besar bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena teknologi tersebut mampu meningkatkan konektivitas wilayah sekaligus memperkuat kebanggaan nasional.









