Bandar Lampung (Lampost.co) — PT Pertamina Patra Niaga mengambil peran strategis dalam memulihkan ekosistem Sungai Musi, dan mengangkat martabat ekonomi masyarakat.
Salah satunya melalui implementasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun mengatakan, sejak 2022, Pertamina menginisiasi program TJSL Belida Musi Lestari.
Program ini merupakan respons atas ancaman kepunahan ikan endemik Belida akibat maraknya praktik penangkapan Ikan Belida yang tak terkendali.
“Sungai Musi bukan hanya ikon Provinsi Sumatera Selatan, tapi juga menjadi urat nadi kehidupan, jejak sejarah dan identitas budaya masyarakat,” ujar Roberth.
Kerusakan ekosistem membuat masyarakat bantaran sungai, terutama nelayan dan pembudidaya, terjebak dalam kerentanan ekonomi.
Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) cukup memprihatinkan, hanya 95,53. Kondisi ini tergambar jelas Kampung Perikanan Sungai Gerong yang sempat mengalami fenomena.
Roberth menjelaskan, Program Belida Musi Lestari melalui pendekatan yang holistik, yakni model ekosistem perikanan berdikari.
Upaya tersebut mencakup lima pilar, yaitu berdikari benih untuk memastikan ketersediaan benih ikan secara mandiri.
Lalu berdikari proses yang menekankan pada tata kelola budidaya yang efisien.
Ketiga berdikari pakan, yang mengimplementasikan inovasi pengolahan pakan mandiri untuk menekan biaya produksi.
Setelah itu berdikari produk yang merupakan hilirisasi perikanan menjadi produk bernilai tambah.
Terakhir berdikari pengetahuan yang fokus pada transfer ilmu pengetahuan sebagai pondasi dan upaya keberlanjutan.
Menurut Roberth, penerapan lima pilar ini berhasil menciptakan konsep sustainable fisheries, empowering community.
“Program ini tidak memberikan bantuan instan yang bersifat sementara, melainkan membangun sistem yang mandiri,” jelas Roberth.
Dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari program Belida Musi Lestari perlahan terlihat.
Secara inklusif, program ini melibatkan 307 jiwa dari 8 kategori kelompok rentan.
Secara finansial, program ini menghasilkan lompatan yang sangat besar, dengan hasil penjualan ikan yang meningkat tajam hingga 809% atau sekitar Rp750-an juta.
Dari sisi lingkungan, program ini berhasil menjawab tantangan limbah dengan mengolah 36 ton sampah makanan menjadi pakan ikan atau pellet food waste.
“Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan simbol pulihnya daya beli dan kesejahteraan keluarga nelayan sepanjang bantaran Sungai Musi,” tutur Roberth.
Dari sisi pelestarian, program Belida Musi Lestari berhasil mengkonservasi 4 jenis Ikan Belida khas Sumatera Selatan yang hampir punah.
Sementara itu, dari sisi keberlanjutan, program ini juga melahirkan Pusat Pembelajaran Masyarakat yang dilengkapi dengan 2 model pembelajaran dan 18 kelas edukasi perikanan.
Deretan keberhasilan itu lantas mendapatkan apresiasi dari para pemangku kepentingan.
Hal ini tercermin dari skor Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang mencapai 98,26% dan survei Exit Readiness & Sustainability Score menunjukkan angka 81,77.
“Efektivitas investasi sosial program ini juga terukur melalui nilai SROI (Social Return on Investment) sebesar 1,76,” tandas Roberth.
Program Belida Musi Lestari menjadi bukti komitmen Pertamina Patra Niaga pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) canangan PBB.
Menurut Roberth, implementasi program ini sesuai dengan beberapa poin SDGs, kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, kota dan pemukiman.
“Program Belida Musi Lestari adalah bukti nyata bahwa kerusakan lingkungan dapat melalui kolaborasi dan inovasi,” tutup Roberth.









