Bandar Lampung (Lampost.co) — Dominasi Intel di pasar CPU gaming global mulai mendapat tantangan serius. Data terbaru Steam Hardware & Software Survey Desember 2025 menunjukkan pergeseran signifikan preferensi gamer PC, dengan AMD terus memperkecil jarak dan mencatat pertumbuhan paling konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Tren ini menegaskan bahwa persaingan prosesor tidak lagi berjalan satu arah. Bagi komunitas gamer, perubahan tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan pilihan teknologi, performa, dan kepercayaan terhadap platform.
AMD Mendekati Intel di Pasar CPU Gaming
Dalam laporan Steam Hardware Survey Desember 2025, AMD mencatatkan pangsa pasar CPU sebesar 47,27 persen, naik tajam dibandingkan kuartal ketiga 2025 yang telah menembus 40 persen. Dalam rentang sekitar empat bulan, kenaikan AMD tercatat mencapai sekitar tujuh persen, dengan lonjakan paling signifikan terjadi pada Desember, yakni 4,66 persen.
Sementara itu, Intel masih memimpin dengan 55,47 persen, tetapi selisih tersebut menjadi yang paling tipis dalam sejarah panjang persaingan kedua raksasa prosesor ini di ekosistem gaming PC berbasis Steam.
Data ini memperlihatkan bahwa semakin banyak gamer mulai beralih atau setidaknya mempertimbangkan platform AMD sebagai pilihan utama.
AM5, DDR5, dan Arah Teknologi AMD
Secara teknologi, AMD saat ini telah sepenuhnya berfokus pada platform AM5 yang hanya mendukung DDR5. Artinya, prosesor Ryzen generasi terbaru—mulai dari seri 7000 hingga 9000—tidak lagi kompatibel dengan DDR4.
Pendekatan ini berbeda dengan Intel yang masih mempertahankan fleksibilitas melalui prosesor Raptor Lake Refresh, yang mendukung DDR4 dan DDR5 sekaligus. Meski terkesan lebih mahal di awal, strategi AMD tampaknya diterima pasar karena menawarkan jalur peningkatan jangka panjang dan performa yang konsisten, terutama untuk gaming.
Daya Tarik CPU Lawas AMD Masih Kuat
Menariknya, lonjakan pangsa AMD tidak hanya didorong oleh prosesor generasi terbaru. Banyak gamer masih bertahan dengan prosesor Zen 3, seperti Ryzen 5 5800X, Ryzen 7 5800X, hingga Ryzen 7 5800X3D.
Bahkan, Ryzen 7 5800X3D—yang sudah tidak lagi dijual secara resmi sebagai produk baru—masih sangat diminati di pasar bekas. Harga unit second-nya kerap lebih tinggi dibandingkan CPU generasi baru, berkat performa gaming yang tetap kompetitif melalui teknologi 3D V-Cache.
Fakta ini menunjukkan bahwa bagi gamer, performa nyata di dalam game sering kali lebih penting dibandingkan sekadar generasi atau fitur terbaru.
Faktor Kepercayaan dan Pengalaman Pengguna
Selain performa, faktor psikologis dan kepercayaan juga ikut berperan. Sebagian gamer masih mengingat isu stabilitas prosesor Intel yang mencuat pada 2024, yang meskipun tidak berdampak ke semua pengguna, cukup memengaruhi persepsi publik.
Dalam ekosistem gaming PC, pengalaman jangka panjang sering kali menjadi faktor penentu. Stabilitas, konsumsi daya, dan konsistensi performa menjadi pertimbangan utama saat gamer memutuskan untuk upgrade atau berpindah platform.
RAM 32GB Jadi Standar Baru Gamer
Tak hanya CPU, data Steam juga mencatat perubahan signifikan pada kapasitas RAM. Pengguna RAM 32GB kini mencapai sekitar 39 persen, hampir menyamai pengguna RAM 16GB yang selama bertahun-tahun menjadi standar utama.
Tren ini cukup kontras dengan kondisi pasar, mengingat harga RAM dilaporkan mengalami kenaikan signifikan. Namun, kebutuhan game modern, multitasking, serta keinginan “future-proof” mendorong gamer melakukan upgrade lebih cepat sebelum harga naik lebih tinggi.
Perubahan ini menandai fase baru PC gaming, di mana spesifikasi kelas menengah beberapa tahun lalu kini bergeser menjadi standar baru.
Peta Baru Persaingan PC Gaming
Data Steam Hardware Survey Desember 2025 memperlihatkan bahwa peta persaingan CPU gaming tengah memasuki fase paling kompetitif dalam satu dekade terakhir. AMD tidak lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi pilihan utama bagi sebagian besar gamer.
Meski Intel masih memimpin, tren yang muncul menunjukkan bahwa keunggulan pasar kini ditentukan oleh kombinasi performa nyata, ekosistem platform, dan kepercayaan pengguna—bukan semata dominasi merek.
Bagi gamer, kondisi ini justru menguntungkan. Persaingan ketat mendorong inovasi lebih cepat, harga lebih kompetitif, dan pilihan hardware yang semakin beragam di masa depan.








