Bandar Lampung (Lampost.co) — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengawali 2026 dengan menghadirkan inovasi di sektor robotika industri. Melalui Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC), BRIN mengembangkan CARRIE (Collaborative Autonomous Robot for Rugged Industrial Environment), robot otonom yang dirancang untuk mendukung sistem logistik di kawasan industri dengan kondisi lingkungan kompleks.
CARRIE dikembangkan sebagai Autonomous Mobile Robot (AMR) yang mampu beroperasi tanpa ketergantungan pada jalur fisik permanen. Kemampuan ini menjadi solusi atas persoalan distribusi material di area industri yang kerap memiliki kontur tidak rata, seperti tanjakan, perbedaan ketinggian lantai, hingga hambatan buatan seperti speed bump.
Peneliti Ahli Madya PRMC BRIN, Roni Permana Saputra, menyebutkan bahwa kekuatan utama CARRIE terletak pada rancangan mekanik adaptif. Robot ini menggunakan sistem swing arm dengan dua platform yang dihubungkan melalui free rotation joint, sehingga masing-masing bagian dapat menyesuaikan posisi mengikuti permukaan lintasan. Dengan desain tersebut, stabilitas muatan tetap terjaga meski robot melintas di medan miring atau bergelombang.
Teknologi LiDAR
Untuk mendukung operasional otonom, CARRIE dilengkapi sensor LiDAR (Light Detection and Ranging) yang berfungsi memetakan lingkungan sekaligus mendeteksi rintangan secara akurat. Teknologi ini dipadukan dengan algoritma perencanaan jalur yang memungkinkan robot memilih rute paling efisien dan aman tanpa kendali manual.
Sistem navigasi tersebut juga membuat CARRIE responsif terhadap perubahan tata letak area kerja. Ketika terjadi penataan ulang mesin atau material di pabrik maupun gudang, robot dapat melakukan pemetaan ulang secara otomatis. Fleksibilitas ini dinilai krusial bagi industri modern yang menuntut kecepatan adaptasi tinggi.
Selain bekerja secara mandiri, CARRIE dirancang untuk beroperasi secara kolaboratif dengan manusia dan sistem otomasi lain, seperti conveyor belt. Pendekatan ini bertujuan menekan beban kerja fisik pekerja sekaligus mengurangi potensi kecelakaan di area operasional berisiko.
Hasil uji coba internal BRIN pada Januari 2026 menunjukkan penerapan CARRIE mampu meningkatkan efisiensi pengantaran material hingga 40 persen dibandingkan metode konvensional. Penggunaannya juga berpotensi diperluas ke sektor lain, seperti logistik acara berskala besar dan distribusi peralatan medis.
Hilirisasi
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan pengembangan CARRIE merupakan bagian dari agenda strategis penguatan industri berbasis teknologi. BRIN saat ini menyiapkan langkah hilirisasi agar inovasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh sektor manufaktur dan swasta nasional.
Melalui pengembangan CARRIE, BRIN menegaskan posisi Indonesia dalam peta persaingan robotika industri global, sekaligus menunjukkan kemampuan inovasi dalam negeri untuk menjawab tantangan otomatisasi di era industri modern.








