Bandar Lampung (Lampost.co) — Industri game dunia kembali bersiap menyambut salah satu proyek JRPG (Japanese Role-Playing Game) paling ambisius tahun ini. Edge of Memories, judul terbaru dari pengembang asal Prancis, Midgar Studio, secara resmi dipastikan akan meluncur pada tahun 2026. Sebagai sekuel spiritual dari Edge of Eternity, gim ini menjanjikan lonjakan kualitas baik dari sisi narasi maupun teknologi visual.
Diterbitkan oleh Nacon, Edge of Memories menjadi sorotan utama bagi para penggemar RPG karena keterlibatan deretan nama besar di balik layarnya. Proyek ini bukan sekadar kelanjutan cerita. Sebaliknya, ini adalah sebuah evolusi total dari mekanik permainan yang sebelumnya dikenal oleh para pemain setianya.
Perjalanan Menyelamatkan Benua Avaris dari Wabah Corrosion
Edge of Memories membawa pemain ke benua Avaris di dunia Heryon yang tengah berada di ambang kehancuran. Fokus utama cerita berpusat pada karakter bernama Eline, seorang pengembara muda yang dikenal sebagai Soul Whisperer. Ia memiliki kemampuan unik untuk menyembuhkan mereka yang terinfeksi oleh Corrosion—sebuah wabah mematikan yang mengubah makhluk hidup menjadi monster mengerikan.
Dalam perjalanannya, Eline tidak sendirian. Ia didampingi oleh mentor misterius bernama Ysoris dan Kanta, seorang pangeran dukun dari suku yang telah hilang. Menariknya, plot kali ini mengeksplorasi sisi gelap dari kekuatan Eline. Ia harus belajar mengendalikan kekuatan Corrosion di dalam tubuhnya sendiri. Hal itu perlu dilakukan untuk berubah menjadi Black Beast demi memenangkan pertempuran yang mustahil.
Kolaborasi Maestro: Dari Musik NieR hingga Desain Xenoblade
Salah satu nilai jual utama yang membuat Edge of Memories begitu dinantikan di tahun 2026 adalah tim kreatifnya. Midgar Studio berhasil menggandeng Yasunori Mitsuda, komposer legendaris di balik Chrono Trigger dan Xenogears, untuk menggarap musiknya. Tidak hanya itu, suara khas Emi Evans (penyanyi soundtrack NieR: Automata) dan tulisan dari penulis skenario Sawako Natori (seri NieR) memastikan atmosfer permainan akan sangat emosional dan mendalam.
Sisi visual pun tidak kalah impresif. Dengan karakter yang didesain oleh Raita Kazama (Xenoblade Chronicles X), gim ini menawarkan estetika anime 3D yang jauh lebih halus dibandingkan pendahulunya. Selain itu, penggunaan Unreal Engine 5 memungkinkan lingkungan Avaris terlihat sangat detail. Lingkungan tersebut mencakup padang rumput yang luas hingga reruntuhan kota yang mencekam.
Transformasi Gameplay: Real-Time Combat yang Dinamis
Berbeda dengan Edge of Eternity yang mengusung sistem pertarungan turn-based klasik, Edge of Memories beralih sepenuhnya ke sistem real-time combat. Pemain dapat melakukan rangkaian kombo cepat, berganti antar karakter secara instan, dan melancarkan serangan pemungkas yang sinematik.
Perubahan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman bermain yang lebih modern dan intens, tanpa menghilangkan kedalaman strategi khas JRPG. Fitur kustomisasi rekan tim juga diperluas, memungkinkan pemain mengatur taktik spesifik untuk menghadapi musuh berukuran raksasa yang disebut Hulk.
Ketersediaan Platform di Tahun 2026
Setelah sempat mengalami penundaan dari jadwal semula di akhir 2025, Edge of Memories kini berada dalam tahap akhir pengembangan. Gim ini dipastikan akan tersedia untuk platform PC melalui Steam, PlayStation 5, dan Xbox Series X|S. Hingga berita ini diturunkan, komunitas gaming global terus memantau tanggal rilis pastinya yang diperkirakan akan jatuh pada kuartal ketiga tahun 2026.
Bagi para penggemar JRPG yang mencari perpaduan antara kisah fantasi yang kelam, musik orkestra yang megah, dan visual modern, Edge of Memories diprediksi akan menjadi standar baru bagi genre ini di tahun 2026.








