Bandar Lampung (Lampost.co) — Generasi Z kembali mengejutkan pasar teknologi. Di tengah dominasi layanan streaming dan smartphone canggih, Gen Z justru melirik perangkat lama seperti iPod.
Perangkat pemutar musik keluaran Apple itu kembali ramai sepanjang 2025. Data pencarian di berbagai platform menunjukkan minat yang meningkat signifikan.
Fenomena itu bukan sekadar nostalgia biasa. Ada perubahan pola konsumsi digital yang mulai terlihat di kalangan anak muda.
Berdasarkan laporan Digital Trends, data dari Google Trends memperlihatkan kenaikan minat terhadap iPod generasi pertama dan iPod Nano sepanjang 2025.
Lonjakan itu tidak hanya terjadi di mesin pencari. Platform jual beli seperti eBay dan Facebook Marketplace juga mencatat peningkatan aktivitas.
Pada Januari dan Oktober 2025, eBay melihat pencarian untuk iPod Classic naik 25 persen daripada periode sama pada 2024.
Sementara itu, pencarian iPod Nano meningkat 20 persen dalam rentang waktu yang sama. Angka itu memperlihatkan ketertarikan yang nyata, bukan sekadar tren sesaat.
Kenaikan tersebut memperkuat sinyal perangkat lawas itu kembali memiliki tempat di hati konsumen muda.
Alasan Gen Z Kembali ke iPod
Gen Z tumbuh bersama internet cepat, media sosial, dan layanan streaming tanpa batas. Namun, kondisi itu juga menghadirkan tekanan digital yang konstan.
Notifikasi yang terus berdatangan sering kali membuat mereka merasa lelah secara mental. Smartphone tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga sumber distraksi tanpa henti.
Di sinilah iPod menawarkan pengalaman berbeda. Perangkat itu hanya berfungsi sebagai pemutar musik. Pengguna tidak menerima notifikasi media sosial. Mereka juga tidak terganggu atas pesan instan atau aplikasi lain.
Gen Z melihat iPod sebagai cara sederhana untuk menikmati musik tanpa gangguan. Mereka ingin kembali ke pengalaman mendengarkan lagu secara utuh.
Nostalgia dan Kenyamanan Emosional
Selain alasan fungsional, faktor emosional ikut berperan besar. Banyak anggota Gen Z tumbuh di era transisi antara perangkat fisik dan streaming digital.
Bagi sebagian dari mereka, iPod menghadirkan kenangan masa kecil yang lebih sederhana. Perangkat itu terasa lebih personal dan intim.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan sosial, anak muda cenderung mencari rasa aman melalui benda-benda familiar. iPod menjadi simbol masa yang terasa lebih optimistis.
Perangkat itu tidak menampilkan iklan. Ia juga tidak memuat aplikasi yang memancing distraksi. Pengalaman tersebut memberi ruang bagi pengguna untuk fokus pada musik. Otak terasa lebih segar karena minim gangguan.
Tren Retro di Tengah Dominasi Streaming
Meski tren iPod meningkat, layanan streaming tetap mendominasi pasar. Data menunjukkan layanan streaming audio on-demand di Amerika Serikat mencapai 1,4 triliun pemutaran lagu pada 2025.
Angka tersebut naik dari 1,3 triliun pada 2024. Pertumbuhan itu menunjukkan streaming tetap menjadi pilihan utama. Artinya, kebangkitan iPod tidak sepenuhnya menggantikan streaming. Tren itu lebih mencerminkan keinginan akan alternatif.
Gen Z tidak benar-benar meninggalkan Spotify atau Apple Music. Mereka hanya mencari keseimbangan dalam konsumsi digital. Beberapa pengguna bahkan memanfaatkan iPod sebagai perangkat khusus untuk fokus. Mereka menggunakannya saat belajar, bekerja, atau berolahraga.
iPod sebagai Simbol Digital Minimalism
Fenomena itu juga berkaitan dengan gerakan digital minimalism. Banyak anak muda mulai membatasi penggunaan media sosial. Mereka mengatur waktu layar dan mengurangi konsumsi konten berlebihan. iPod mendukung gaya hidup tersebut.
Dengan kapasitas penyimpanan musik offline, iPod memberi kendali penuh pada pengguna. Mereka memilih lagu secara sadar, bukan berdasarkan algoritma. Kebiasaan itu mendorong hubungan yang lebih dalam dengan musik. Pengguna tidak lagi sekadar memutar playlist acak.
Peluang Pasar Gadget Retro
Kenaikan minat terhadap iPod membuka peluang baru di pasar gadget retro. Penjual perangkat bekas mulai memanfaatkan momentum itu.
Harga iPod Classic dan iPod Nano di pasar sekunder mengalami kenaikan. Unit dengan kondisi mulus bahkan diburu kolektor.
Fenomena itu juga memperlihatkan teknologi lama tidak selalu kehilangan nilai. Selama memiliki fungsi jelas dan makna emosional, perangkat lawas tetap relevan.
Bagi Apple, tren itu menjadi sinyal menarik. Meski perusahaan fokus pada layanan digital, minat terhadap perangkat offline tetap ada.
Apakah Tren itu Akan Bertahan?
Pertanyaan besar muncul soal keberlanjutan tren ini. Apakah Gen Z akan terus menggunakan iPod dalam jangka panjang?
Jawabannya bergantung pada pola konsumsi digital ke depan. Jika tekanan notifikasi dan distraksi semakin tinggi, perangkat minimalis bisa semakin diminati.
Namun, streaming tetap menawarkan kemudahan dan katalog musik yang luas. Kombinasi keduanya mungkin menjadi solusi paling realistis.
Gen Z terkenal adaptif terhadap perubahan. Mereka tidak ragu mencoba sesuatu yang berbeda jika sesuai kebutuhan.
Kebangkitan iPod pada 2025 menunjukkan satu hal penting. Anak muda tidak selalu terpaku pada teknologi terbaru.
Mereka mencari pengalaman yang lebih bermakna dan terkendali. Dalam konteks itu, iPod kembali menemukan relevansinya.
Tren itu bukan sekadar nostalgia. Ia mencerminkan pergeseran cara generasi muda memaknai teknologi dalam kehidupan sehari-hari.








