Bandar Lampung (Lampost.co) — Pasar komponen PC global di awal tahun 2026 menunjukkan dinamika yang mengejutkan. Berdasarkan laporan terbaru per Februari 2026, terjadi anomali harga yang signifikan antara pasar Eropa, khususnya Jerman. Sementara itu, wilayah Amerika Serikat menunjukkan perbedaan. Fenomena ini memicu perbincangan hangat di kalangan perakit PC dan antusias teknologi. Mereka membicarakan kapan krisis harga memori akan benar-benar berakhir.
Hasil verifikasi tim redaksi terhadap tren pasar internasional mengonfirmasi bahwa informasi mengenai penurunan harga RAM di Jerman adalah benar. Namun, di sisi lain, komponen penyimpanan seperti SSD dan Hard Disk (HDD) justru mengalami lonjakan yang cukup meresahkan.
Anomali Harga RAM: Jerman vs Amerika Serikat
Data terbaru dari 3DCenter dan ComputerBase menunjukkan bahwa harga RAM DDR5 di Jerman mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Salah satu contoh yang paling mencolok adalah kit RAM 32GB DDR5 dari Crucial yang mengalami penurunan harga hingga 20 persen dalam satu bulan terakhir. Pada pertengahan Januari 2026, kit ini dibanderol sekitar 473 USD. Namun kini turun ke angka 378 USD.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan pasar Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam, harga RAM masih cenderung merangkak naik. Namun, kecepatannya tidak seagresif tahun 2025. Beberapa kit memori populer di Amazon AS justru mencatatkan kenaikan antara 5 hingga 17 persen dalam periode yang sama. Meski Jerman menunjukkan tren positif, secara akumulatif harga RAM saat ini masih tercatat 4,4 kali lipat lebih mahal dibandingkan periode September 2025.
Krisis Storage: SSD dan HDD Makin Tercekik
Jika pasar RAM mulai sedikit bernapas, sektor penyimpanan atau storage justru kian mengkhawatirkan. Laporan pasar Februari 2026 menyebutkan bahwa harga chip NAND, yang merupakan komponen utama SSD, melonjak 87 persen dibandingkan lima bulan lalu. Kenaikan harga SSD dari Januari ke Februari 2026 saja sudah menembus angka 10 persen.
Beberapa model SSD high-end, seperti WD_BLACK SN850X 2TB, bahkan mencatatkan kenaikan harga instan sebesar 33 persen hanya dalam waktu satu bulan. Di sisi lain, harga hard disk (HDD) konvensional juga tidak mau kalah. Kenaikan harganya sekitar 50 persen dibanding akhir tahun lalu.
Penyebab Utama: Dominasi Infrastruktur AI
Penyebab utama dari “badai” harga ini tetap sama sejak tahun 2025, yakni ledakan permintaan perangkat keras untuk kecerdasan buatan (AI). Produsen memori raksasa seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron lebih memprioritaskan produksi High Bandwidth Memory (HBM) untuk data center AI. Hal ini karena margin keuntungan jauh lebih tinggi ketimbang pasar konsumen.
Akibatnya, pasokan chip untuk RAM DDR5 dan NAND Flash untuk SSD di pasar ritel menjadi sangat terbatas. Para analis memprediksi kondisi pasar baru akan benar-benar kembali normal atau stabil pada akhir tahun 2026 atau awal 2027. Hal ini akan terjadi saat kapasitas pabrik baru mulai beroperasi secara penuh untuk memenuhi kebutuhan global.
Bagi konsumen di Indonesia, sebaiknya untuk memantau pergerakan harga secara harian dan mempertimbangkan kembali urgensi saat ingin melakukan upgrade komponen dalam waktu dekat.








