Pasar PC global April 2026 dihantam krisis CPU. Kelangkaan prosesor Intel dan AMD disebut lebih akut dibanding krisis RAM dengan potensi kenaikan harga hingga 30 persen.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Industri teknologi global kembali diguncang krisis komponen yang sangat serius pada kuartal kedua tahun 2026. Setelah sempat didera kelangkaan memori (RAM), kini giliran unit pemrosesan pusat atau CPU yang mengalami kelangkaan akut. Laporan terbaru menyebutkan krisis CPU kali ini bahkan lebih parah dan sulit dikendalikan dibandingkan krisis RAM yang terjadi sebelumnya.
Kondisi pasar hardware di April 2026 ini menunjukkan stok prosesor dari dua raksasa, Intel dan AMD, mulai menghilang dari peredaran. Tidak hanya di pasar ritel, kelangkaan ini bahkan sudah memukul manufaktur besar (OEM) seperti HP, Dell, dan Asus. Mereka mulai kesulitan memenuhi target produksi laptop dan PC desktop mereka.
Analis industri mengungkapkan bahwa akar masalah ini terletak pada ledakan permintaan chip untuk kebutuhan pusat data AI (Artificial Intelligence). Produsen semikonduktor dilaporkan mengalihkan kapasitas produksi mereka untuk memprioritaskan chip server kelas atas yang memiliki margin keuntungan lebih besar. Akibatnya, lini prosesor konsumen dikorbankan.
Selain itu, kendala teknis pada proses fabrikasi terbaru juga memperburuk keadaan. Teknologi Intel 18A yang diharapkan menjadi solusi pasokan pada awal 2026, masih menghadapi tantangan pada tingkat keberhasilan produksi (yield rate). Meskipun ada perbaikan bertahap, volume produksi belum mampu menutupi celah permintaan pasar yang terus melonjak sejak awal tahun.
Krisis ini diprediksi akan memicu kenaikan harga perangkat PC secara signifikan. Berdasarkan data pasar April 2026, harga prosesor standar x86 dari Intel dan AMD telah mengalami kenaikan rata-rata sebesar 10 hingga 15 persen dalam beberapa pekan terakhir. Di segmen laptop tertentu, kenaikan harga bahkan bisa mencapai 30 persen.
Para gamer dan perakit PC mandiri menjadi kelompok yang paling terdampak. Beberapa seri prosesor mainstream yang populer kini berstatus “Out of Stock” di berbagai platform e-commerce global maupun lokal. Kondisi ini diperkirakan akan memperpanjang siklus pembaruan (upgrade) perangkat. Sebab, konsumen lebih memilih menunda pembelian akibat harga yang tidak masuk akal.
Sektor korporasi atau enterprise juga tidak luput dari dampak ini. Pengadaan komputer untuk infrastruktur kantor kini membutuhkan waktu tunggu (lead time) hingga enam bulan. Ini melonjak drastis dari waktu normal yang biasanya hanya dua hingga empat minggu. Beberapa perusahaan mulai melirik alternatif prosesor berbasis ARM sebagai solusi jangka pendek. Tujuannya agar operasional mereka tetap berjalan.
Para pakar memprediksi ketidakstabilan pasokan CPU ini akan bertahan setidaknya hingga akhir semester kedua 2026. Hal ini bergantung pada seberapa cepat Intel dan TSMC mampu meningkatkan kapasitas produksi mereka untuk chip generasi terbaru.
Bagi masyarakat yang berencana membeli perangkat baru, para pengamat menyarankan untuk segera melakukan transaksi jika menemukan stok dengan harga yang masih wajar. Hal ini sebaiknya dilakukan sebelum gelombang kenaikan harga berikutnya menghantam pasar pada periode Mei-Juni mendatang.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update