Ilmuwan Oxford Kembangkan Vaksin Ebola Baru, Harapan Baru untuk Wabah di Kongo

Peneliti menegaskan vaksin ini tidak menyebabkan seseorang terkena Ebola karena hanya membawa sebagian kecil materi genetik virus, bukan virus aktif yang dapat berkembang di tubuh manusia.

Editor Denny
Rabu, 27 Mei 2026 15.20 WIB
Ilmuwan Oxford Kembangkan Vaksin Ebola Baru, Harapan Baru untuk Wabah di Kongo
vaksin Ebola Oxford

Bandar Lampung (Lampost.co) — Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo, tim ilmuwan dari Universitas Oxford mulai mengembangkan vaksin baru yang ditujukan khusus untuk melawan jenis virus Ebola langka bernama Bundibugyo.

Vaksin tersebut disebut berpotensi memasuki tahap uji klinis dalam dua hingga tiga bulan ke depan apabila hasil penelitian awal menunjukkan perkembangan positif.

Langkah cepat Oxford menarik perhatian dunia karena hingga saat ini belum ada vaksin yang benar-benar terbukti efektif untuk menangani spesies Bundibugyo.

Wabah Ebola di Kongo Jadi Sorotan Dunia

Pengembangan vaksin ini muncul setelah kasus Ebola di Kongo terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Wabah tersebut dikabarkan telah menyebabkan ratusan dugaan infeksi dan lebih dari seratus kematian.

Situasi yang memburuk membuat Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization meningkatkan tingkat risiko wabah di wilayah tersebut dari “tinggi” menjadi “sangat tinggi”.

Meski begitu, WHO menegaskan kondisi tersebut belum masuk kategori pandemi global.

Oxford Gunakan Teknologi Vaksin Covid-19

Menariknya, vaksin Ebola terbaru ini dikembangkan menggunakan teknologi ChAdOx1, platform yang sebelumnya dipakai tim University of Oxford saat membuat vaksin Covid-19.

Teknologi ini dikenal fleksibel karena dapat disesuaikan dengan cepat untuk menghadapi berbagai jenis virus.

Jika pada pandemi Covid-19 platform tersebut membawa materi genetik virus corona, kini ilmuwan memasukkan kode genetik virus Ebola spesies Bundibugyo ke dalam vaksin.

Pendekatan ini diharapkan mampu melatih sistem kekebalan tubuh agar mengenali dan melawan virus Ebola sebelum infeksi terjadi.

Cara Kerja Vaksin Ebola Oxford

Vaksin ini memanfaatkan virus flu ringan yang biasanya menyerang simpanse dan telah dimodifikasi agar aman digunakan manusia.

Virus tersebut kemudian dijadikan “kendaraan” untuk membawa materi genetik Ebola ke dalam tubuh.

Ketika masuk ke sel manusia, sistem imun akan belajar mengenali ancaman virus Ebola dan membentuk pertahanan alami.

Peneliti menegaskan vaksin ini tidak menyebabkan seseorang terkena Ebola karena hanya membawa sebagian kecil materi genetik virus, bukan virus aktif yang dapat berkembang di tubuh manusia.

Masih Harus Lewati Tahap Uji Hewan

Meski dinilai menjanjikan, vaksin Ebola Oxford masih berada dalam tahap awal penelitian.

Saat ini para peneliti masih menjalankan pengujian pada hewan untuk memastikan keamanan dan efektivitas vaksin sebelum memasuki uji klinis manusia.

Menurut laporan BBC, proses penelitian hewan saat ini sedang berlangsung di Oxford.

WHO juga menyebut hingga kini belum ada data lengkap yang membuktikan efektivitas vaksin tersebut terhadap virus Bundibugyo.

Karena itu, hasil akhir penelitian masih sangat bergantung pada tahapan pengujian berikutnya.

India Disiapkan Jadi Pusat Produksi Massal

Untuk mengantisipasi kebutuhan distribusi cepat jika vaksin berhasil, Serum Institute of India disebut sudah bersiap memproduksi vaksin dalam skala besar.

Oxford nantinya akan menyediakan bahan awal yang diperlukan untuk memulai proses produksi massal.

Profesor Sandy Douglas Lambe menyebut produksi bisa berjalan cepat begitu bahan dasar vaksin tersedia.

Kecepatan produksi dianggap sangat penting karena wabah Ebola memiliki risiko penyebaran yang mematikan apabila tidak dikendalikan sejak awal.

Virus Bundibugyo Termasuk Jenis Ebola Langka

Virus Ebola memiliki beberapa spesies berbeda, tetapi hanya sebagian yang diketahui memicu wabah besar pada manusia.

Bundibugyo termasuk jenis yang cukup langka karena sebelumnya hanya pernah memicu wabah di Uganda pada 2007 dan Kongo pada 2012.

Selama lebih dari satu dekade terakhir, virus ini hampir tidak pernah muncul lagi.

Berbeda dari vaksin Covid-19 yang diberikan secara massal, vaksin Ebola biasanya digunakan melalui strategi ring vaccination.

Metode ini memfokuskan vaksinasi pada kelompok paling berisiko, seperti keluarga pasien, kontak dekat penderita, dan tenaga kesehatan yang merawat pasien Ebola.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif karena Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI