Bandar Lampung (Lampost.co) — Dunia teknologi di awal tahun 2026 ini dikejutkan oleh peluncuran model kecerdasan buatan (AI) terbaru dari ByteDance, Seedance 2.0. Alat pembuat video otomatis ini mendadak viral di media sosial karena kemampuannya menghasilkan visual yang hampir tidak bisa dibedakan dengan rekaman kamera asli, memicu perdebatan panas sekaligus berdampak pada gejolak pasar perangkat keras global.
Viralnya Seedance 2.0 dipicu oleh berbagai unggahan pengguna yang memperlihatkan tokoh-tokoh populer dalam skenario yang tampak sangat nyata. Hal ini bahkan memicu reaksi keras dari industri film Hollywood, di mana raksasa hiburan seperti Disney dilaporkan telah melayangkan surat teguran terkait penggunaan hak kekayaan intelektual dalam proses pelatihan model AI tersebut.
Mengapa Harga RAM Jadi Gila-gilaan?
Postingan netizen yang mengaitkan Seedance 2.0 dengan lonjakan harga RAM bukan sekadar rumor. Memasuki kuartal pertama 2026, dunia menghadapi fenomena yang disebut analis sebagai “RAMageddon” atau pandemi memori.
Pemicunya adalah lonjakan besar kebutuhan infrastruktur AI. Sistem seperti Seedance 2.0 membutuhkan pusat data dengan kapasitas memori sangat besar. Server harus memproses jutaan perintah secara bersamaan.
Akibatnya, produsen chip seperti Samsung dan SK Hynix mengalihkan produksi. Mereka memprioritaskan memori server seperti HBM dibanding RAM konsumen seperti DDR5.
Dampaknya terasa di pasar retail. Pada Februari 2026, harga DDR5 32GB naik hingga 60 persen dibanding akhir tahun lalu. Di beberapa wilayah, harganya hampir menyentuh 500 dolar AS.
Kelangkaan diperkirakan berlanjut hingga semester pertama 2026.
Era Baru Kreator Konten dan Tantangan Etika
Meski membebani kantong para gamer dan perakit PC, Seedance 2.0 dianggap sebagai game changer bagi kreator konten. Kemampuan multi-modal yang mendukung input hingga 9 gambar dan 3 klip audio sekaligus memungkinkan pembuatan film pendek berkualitas sinema hanya melalui perintah teks (prompt).
ByteDance sendiri telah menanggapi kekhawatiran publik dengan menjanjikan penguatan sistem filter keamanan (safeguards) untuk mencegah penyalahgunaan identitas tokoh publik. Saat ini, Seedance 2.0 sudah mulai bisa diakses secara terbatas. Melalui platform Jimeng (Dreamina) untuk pengguna global, sementara integrasi penuh ke aplikasi TikTok diperkirakan akan rampung sebelum musim panas 2026.








