Menurut Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur, masalah utamanya bukan kurangnya pengetahuan, tetapi faktor situasi.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Aktivitas digital kini sudah menjadi bagian dari rutinitas—mulai dari transaksi, komunikasi, hingga hiburan. Namun di balik kemudahan tersebut, ancaman penipuan digital (scam) juga semakin meningkat dan makin sulit dikenali.
Perusahaan keamanan digital VIDA mengingatkan bahwa pengguna perlu meningkatkan kewaspadaan, karena pelaku kejahatan kini memanfaatkan berbagai celah kecil dalam aktivitas sehari-hari.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan melalui Indonesia Anti-Scam Centre menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan.
Dalam periode November 2024 hingga Maret 2026, tercatat lebih dari 515 ribu laporan penipuan digital. Dari jumlah tersebut, sebagian besar kasus melibatkan pencurian kode OTP (One-Time Password).
Fakta penting lainnya:
Pelaku kejahatan digital terus beradaptasi dengan kebiasaan pengguna. Beberapa modus yang paling umum antara lain:
1. Phishing (Tautan Palsu)
Pesan yang terlihat seperti dari bank atau layanan resmi, biasanya berisi link untuk klaim hadiah atau verifikasi akun.
2. File APK Berbahaya
File yang dikirim melalui chat atau email, sering menyamar sebagai resi paket atau update aplikasi.
3. Deepfake
Teknologi manipulasi wajah atau suara yang digunakan untuk meyakinkan korban, bahkan meniru orang terdekat.
Semua metode ini bertujuan sama: mengambil data penting, terutama OTP dan akses akun.
Menurut Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur, masalah utamanya bukan kurangnya pengetahuan, tetapi faktor situasi.
Banyak orang sebenarnya sudah tahu soal scam. Namun ketika dihadapkan pada kondisi yang terasa mendesak—seperti ancaman blokir akun atau iming-iming hadiah—keputusan sering diambil tanpa verifikasi.
Agar tidak menjadi korban, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan:
Kebiasaan kecil ini bisa menjadi perlindungan utama di dunia digital.
Sebagai bagian dari edukasi publik, VIDA menghadirkan kampanye “The World of VIDA” untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya keamanan identitas digital.
Selain itu, mereka juga menyiapkan inovasi lanjutan melalui konsep “Beyond Liveness”, yaitu sistem keamanan yang tidak hanya mengandalkan verifikasi wajah, tetapi juga:
Pendekatan ini diharapkan bisa memberikan perlindungan lebih menyeluruh.
Penipuan digital kini bukan lagi ancaman kecil, melainkan risiko nyata yang bisa terjadi kapan saja. Seiring berkembangnya teknologi, modus kejahatan juga ikut berkembang.
Karena itu, kewaspadaan menjadi kunci utama. Dengan memahami pola penipuan dan menerapkan kebiasaan aman, pengguna bisa tetap nyaman beraktivitas di dunia digital tanpa rasa khawatir.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update