Bandar Lampung (Lampost.co): Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi pada tahun 2024. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada Agustus 2024, sebanyak 1,84 juta lulusan SMK atau 9,01 persen belum mendapatkan pekerjaan.
Dunia usaha dan dunia industri (DUDI) mulai aktif berperan dalam meningkatkan keterampilan siswa sebagai langkah konkret untuk mengurangi angka pengangguran lulusan SMK. PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) menjadi salah satu perusahaan yang berkontribusi melalui program corporate social responsibility (CSR) mereka.
Berita terkait: Journalism Fellowship on CSR, Sarana Peningkatan Kapasitas Jurnalis
Head of CSR Department TBIG, Fahmi Sutan Alatas, menjelaskan bahwa pihaknya menjadikan pendidikan sebagai salah satu fokus utama CSR, selain sektor kebudayaan, lingkungan, dan kesehatan.
“Kami melihat adanya masalah di sekolah vokasi, khususnya tingginya angka pengangguran lulusan SMK. Maka, kami mencoba merumuskan solusi melalui program ini,” ujarnya, Senin, 14 April 2025.
TBIG menghadirkan program kurikulum unggulan yang memberi akses lebih luas bagi siswa dan guru SMK terhadap infrastruktur pendukung kegiatan praktik. Melalui program ini, perusahaan juga melatih peserta secara teori dan praktik tentang fiber optik dan Fiber to The Home (FTTH) dengan melibatkan tenaga ahli internal.
“Kami membagikan pengetahuan kepada sekolah-sekolah yang relevan dengan bidang keahlian kami. Kami juga mengajak mereka mengunjungi Laboratorium FO-FTTH di Rumah Belajar TBIG agar mereka bisa langsung menggunakan perangkat aktif,” lanjutnya.
Fahmi menegaskan bahwa DUDI sebenarnya memiliki permintaan tinggi terhadap tenaga kerja lulusan SMK, namun kualitas lulusan perlu terus ditingkatkan.
“Permintaan memang tinggi, tapi kualitas lulusan harus kita dorong lebih baik lagi. Karena itu, kami memberi kesempatan bagi mereka untuk mencoba melalui program kurikulum unggulan,” tuturnya.
Melalui program CSR tersebut, TBIG telah menjangkau 1.211 siswa dari 31 sekolah yang tersebar di sembilan provinsi. Dari program itu, sebanyak 83 siswa berhasil mengikuti magang di perusahaan mitra TBIG, dan 45 di antaranya langsung diterima bekerja.
Tak hanya menyasar siswa, TBIG juga melatih 50 guru SMK agar pengetahuan yang mereka terima bisa mereka transfer ke lebih banyak siswa. Hasilnya, sebanyak 9.176 siswa mendapatkan pembelajaran dari guru-guru yang sudah mengikuti pelatihan tersebut.
“Pada tahun 2024 kemarin, kami juga berhasil membuka peluang kerja bagi peserta program ini,” ujarnya.
Manfaat Program Pelatihan
Guru SMK 11 Maret Bekasi, Andika Prawira, yang turut merasakan manfaat program ini, menyatakan bahwa pelatihan tersebut memberikan dampak positif bagi sekolahnya. Ia dan timnya mulai menyelaraskan kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri agar lulusan SMK memiliki kompetensi sesuai standar perusahaan.
“Kami mengirim lima guru untuk mengikuti pelatihan fiber optik di TBIG. Sekarang kami mulai menyusun kurikulum bersama perusahaan,” ungkapnya.
Andika juga menyampaikan bahwa dari 50 siswa yang mengikuti pelatihan fiber optik, sebanyak 15 berhasil mengikuti magang di perusahaan mitra.
“Dari 50 siswa, 15 berhasil magang di perusahaan-perusahaan di Tangerang, Jakarta, dan Bekasi. Tiga di antaranya bahkan langsung diterima bekerja di mitra TBIG,” jelasnya.
Salah satu siswa peserta program, Muhammad Fahri Andika, juga merasakan manfaat langsung dari pelatihan tersebut.
“Pelatihan ini sangat membantu kami meningkatkan kemampuan teknis dan soft skill. Di tengah ketatnya persaingan kerja, pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami yang baru lulus,” ujarnya.
Ikuti terus berita dan artikel Lampost.co lainnya di Google News