Jakarta (Lampost.co)–Kabar duka datang dari dunia ekonomi dan politik nasional. Ekonom senior dan mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin), Kwik Kian Gie, meninggal dunia pada Senin malam, 28 Juli 2025, pukul 22.00 WIB.
Info Penting:
- Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) di era Presiden Gus Dur.
- Tokoh yang dikenal tajam dalam analisis ekonomi dan jernih dalam menyuarakan suara rakyat.
-
Sosoknya tegas, idealis, dan sering kali berbeda pandangan dengan arus utama kekuasaan.
Kabar wafatnya tokoh ekonomi itu terkonfirmasi oleh politikus PDI Perjuangan, Hendrawan Supratikno, pada Selasa dini hari. Menurut Hendrawan, Kwik sempat menjalani perawatan intensif di RS Medistra Jakarta selama dua bulan sebelum tutup usia.
“Beliau meninggal dunia setelah dirawat sekitar dua bulan di RS Medistra,” ujar Hendrawan kepada wartawan, Selasa, 29 Juli 2025.
Menurut Hendrawan, selama masa hidupnya, Kwik kerap mengeluhkan masalah kesehatan pada sistem pencernaannya. Kondisi itu terus berlanjut hingga akhirnya Kwik berpulang. “Selama ini beliau selalu mengeluh tentang pencernaannya yang sering terganggu,” kata Hendrawan.
Soal prosesi persemayaman, keluarga masih menunggu kehadiran salah satu anak almarhum yang sedang dalam perjalanan pulang dari luar negeri. “Putri yang kedua masih dalam perjalanan dari London ke Jakarta,” ujarnya.
Baca Juga: Koperasi Merah Putih Diharapkan Menjadi Motor Penggerak Ekonomi
Atas kepergian tokoh yang dikenal tajam dalam analisis ekonomi dan jernih dalam menyuarakan suara rakyat itu, Hendrawan menyampaikan rasa dukanya yang mendalam.
“RIP Kwik Kian Gie. Selamat jalan menuju keabadian, ekonom andal berintegritas. You’ll be missed,” ucapnya.
Sementara itu, ekonom senior Indef Didik J. Rachbini mengaku kehilangan atas kepergian Kwik. Menurutnya, Kwik adalah ekonom yang hebat dan punya peran besar terhadap ekonomi Indonesia.
Mantan Menko ini kerap mengkoreksi jika ada kebijakan ekonomi pemerintah yang melenceng. Ia juga selalu menjadi penyeimbang kebijakan ekonomi pemerintah.
Ia sebagai figur intelektual yang berani menyuarakan kebenaran, bahkan jika itu berarti harus berseberangan dengan kekuasaan. Pemikiran Kwik sangat relevan sampai saat ini, yaitu tentang pentingnya kedaulatan ekonomi.
“Ini yang selalu disuarakan, jangan tergantung kepada IMF dan utang agar tidak disubordinasi secara politik oleh kekuatan asing dan barat. Karena itu, harus ada kewaspadaan terhadap jebakan utang luar negeri. Kritik terhadap oligarki ekonomi-politik dan sempat heboh dengan mengkritik konglomerat hitam, yang tergantung kepada lisensi negara, tetapi merugikan rakyat,” katanya.
Profil Singkat Kwik Kian Gie
Kwik Kian Gie lahir di Juwana, Pati, Jawa Tengah, pada 11 Januari 1935. Ia meninggal dunia dalam usia 90 tahun, meninggalkan jejak panjang sebagai akademisi, teknokrat, dan politisi bersih dan vokal.
Karier politik Kwik mulai sejak bergabung dengan PDI pada 1987. Ia menjadi anggota Badan Pekerja MPR RI, anggota Komisi IX DPR, hingga menjabat sebagai Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan DPP PDIP periode 2000–2005.
Di bidang eksekutif, Kwik menjabat sebagai Menko Ekuin di era Presiden Abdurrahman Wahid (1999–2000) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri (2001–2004). Sosoknya tegas, idealis, dan sering kali berbeda pandangan dengan arus utama kekuasaan.