Jakarta (Lampost.co) — Pakar kehutanan menyoroti temuan material kayu besar di lokasi bencana yang menguatkan dugaan keterlibatan manusia. Saat terjadi banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra membawa kayu besar.
Poin Penting:
-
Pakar IPB soroti kayu besar di lokasi bencana merupakan ulah manusia.
-
Hutan sehat menahan air hujan secara alami.
-
Pembalakan liar menurunkan kerapatan tajuk sehingga merusak vegetasi.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjanjikan evaluasi menyeluruh pascabencana di Sumatra dengan membenahi pengelolaan hutan dan pengawasan izin. Karena itu, Kementerian Kehutanan mempercepat audit lapangan untuk menelusuri pemicu banjir dan longsor di berbagai daerah.
Raja Juli menegaskan pembenahan tidak bersifat parsial, tapi evaluasi menyasar kebijakan, perizinan, dan pengawasan. Lingkup evaluasi mencakup hulu hingga hilir.
Baca juga: Kemenhut Cabut 20 PBPH dengan Luas 750 Ribu Hektare di Wilayah Banjir Sumatra
Gangguan Vegetasi
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Prof Bambang Hero Saharjo menjelaskan temuan tersebut tidak sepenuhnya alamiah. Ia menilai kayu besar mengindikasikan gangguan vegetasi.
Menurut Prof Bambang, kondisi serupa pernah terjadi di Sumatra Utara. Saat itu, kerusakan hutan memperparah dampak hujan ekstrem.
Hutan Sehat Miliki Pertahanan Alami
Ia juga menambahkan hutan sehat memiliki sistem pertahanan alami yang bekerja melalui struktur vegetasi berlapis. “Air hujan tidak langsung jatuh ke tanah. Air lebih dulu pecah di tajuk,” kata Prof Bambang, Jumat, 5 Desember.
Selanjutnya, sebagian air mengalir melalui batang atau stem flow. Karena itu, laju air berkurang dan dapat menekan erosi.
Selain itu, tumbuhan bawah dan serasah menyerap air hujan sehingga dapat menjaga stabilitas tanah. Dengan mekanisme tersebut, hutan sehat menahan longsor dan dapat meredam debit banjir.
Vegetasi Terganggu Pembalakan Liar
Prof Bambang menyebut sistem vegetasi bekerja menyeluruh mulai dari tajuk hingga lantai hutan, semua berperan. “Lapisan vegetasi adalah penyangga alami lingkungan,” ujarnya.
Namun, kondisi berubah saat pembalakan liar masuk yang menyebabkan kerapatan tajuk menurun tajam. Akibatnya, celah antartajuk melebar sehingga air menghantam tanah secara langsung. Akibat hantaman itu, erosi meningkat dan tanah pun mudah longsor.
Sinyal Kerusakan Vegetasi
Prof Bambang juga menegaskan tumbangnya satu atau dua pohon tidak berbahaya karena itu bagian dari siklus alami. “Paling satu atau dua pohon yang tumbang. Itu wajar,” katanya.
Akar pohon tua menjaga struktur tanah dan celah akibat tumbang segera terisi regenerasi. Sebaliknya, kerusakan besar mengubah lanskap sehingga kerentanan bencana meningkat tajam. Karena itu, kayu besar pascabencana bukan hal biasa.
Menurut Prof Bambang, itu merupakan sinyal kerusakan vegetasi. “Kayu besar adalah konsekuensi aktivitas manusia,” ujarnya.
Untuk itu, dia mendorong penindakan tegas terhadap pelanggar. Selain itu, harus mempercepat pemulihan hutan.








