Bandar Lampung (Lampost.co): Sampah plastik terus mengancam keberlanjutan lingkungan hidup. Selain memicu banjir, sampah plastik juga merusak ekosistem mangrove di pesisir Bandar Lampung.
Mitra Bentala menggandeng masyarakat setempat dan para pemangku kepentingan untuk menggelar Workshop Penanganan Sampah Plastik dalam Upaya Perlindungan Biodiversitas Ekosistem Mangrove di Bandar Lampung. Kegiatan tersebut mendorong masyarakat berperan sebagai pelaku utama penyelamatan lingkungan.
Direktur Eksekutif Mitra Bentala, Rizani, menegaskan bahwa krisis sampah plastik tidak berhenti pada problem lokal, tetapi meluas sebagai ancaman global yang terus memburuk. Ia menyebut jumlah sampah plastik terus meningkat dan berpotensi melonjak hingga 37 ton pada 2040.
“Kerugian ekonomi akibat polusi plastik sejak 2016–2040 mencapai 281 triliun dolar. Sebanyak 20 persen sampah plastik yang mencemari laut datang dari daratan,” ujarnya, Kamis, 12 Desember 2025.
Indonesia pun menghadapi persoalan serupa. Data menunjukkan, produksi sampah plastik nasional mencapai 7,8 juta ton per tahun, dan 4,9 juta ton di antaranya tidak memiliki pengelolaan yang memadai. Di Bandar Lampung, BPS menilai produksi sampah sepanjang 2024 mencapai 317.561 ton sehingga ancaman terhadap pesisir semakin nyata.
Kawasan Kota Karang menggambarkan kondisi tersebut secara terang. Timbunan sampah di Pulau Pasaran mencapai 149 ton per tahun, dan 64 persen di antaranya berupa residu plastik.
“Sampah plastik tidak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga menurunkan kualitas mangrove dan terumbu karang,” ujar Rizani.
Rizani menambahkan bahwa Mitra Bentala tidak berhenti pada aksi bersih. Lembaga itu justru mengembangkan pendekatan partisipatif melalui pendirian bank sampah, penanaman mangrove, pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta pemetaan dan monitoring kawasan pesisir. Seluruh upaya tersebut mengikuti UU 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah dan tujuan SDGs.








