Surabaya (Lampost.co)—Bayi yang baru berusia dua minggu kehilangan ibunya PDA, 39, seorang warga binaan Rumah Tahanan atau Rutan Perempuan Surabaya di Kecamatan Porong, Sidoarjo yang meninggal dunia akibat sakit.
IG yang di tinggal ibunya, akhirnya mendapat perawatan A,37, adik dari almarhumah PDA. Kakak beradik itu sama-sama menjadi warga binaan Rutan Perempuan Surabaya karena kasus penipuan.
Mereka adalah warga Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Sementara suami dari almarhumah PDA masih buronan juga terkait kasus tersebut.
Baca juga: Sinergi Antarlembaga Jadi Kunci Pembinaan Napiter di Lapas Kalianda
PDA masuk ke Rutan Perempuan Surabaya dalam keadaan sudah hamil. Dua minggu lalu lahirlah IG, bayi laki-laki yang lucu di rutan tersebut. Namun sepuluh hari setelah melahirkan, ibu bayi malang itu meninggal dunia.
“Almarhumah meninggal dua hari lalu,” kata Kepala Rutan Perempuan Surabaya Yuyun Nurliana, Rabu (31/12).
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Sosial akhirnya berupaya untuk merawat bayi malang ini. Pemerintah memastikan pemenuhan kebutuhan kesehatan dan pengasuhan bayi selama proses pemindahan. Penyerahan bayi ke Dinas Sosial di Rutan Perempuan Surabaya pada Rabu (31/12) disaksikan Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana.
“Hari ini pemerintah kabupaten menerima penyerahan bayi, yang kebetulan ibunya melahirkan di rutan dan dua hari lalu kemudian meninggal. Penyerahan ini kita lakukan agar bayi bisa mendapatkan pelayanan yang lebih baik daripada berada di rutan,” kata Mimik Idayana, di sela-sela penyerahan bayi di rutan.
Kondisi Terbatas
Pada kesempatan itu Mimik yang berkesempatan berdialog dengan adik almarhumah, juga berinisiatif merawat tiga anak A. Ternyata di ketahui, A yang juga mendekam di Rutan Perempuan Surabaya memiliki tiga anak yang menitipkan ke saudaranya.
Namun karena kondisi yang serba terbatas, ketiga bocah tersebut tidak sekolah. Mereka hanya tinggal di tempat kos dalam kondisi memprihatinkan.
“Ada tiga anak yang ibunya napi dan sudah menyetujui untuk saya asuh. Anak-anak ini rencananya akan saya tempatkan di Yayasan Ponpes Arrohman-Arrohim di Candi Sidoarjo. Supaya mereka mendapat perhatian dan pendidikan yang layak,” kata Mimik.
Kepala UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Balita Sidoarjo, Sri Mariyani, mengatakan, pihaknya siap memberikan pendampingan. Pendampingan mereka lakukan mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar. Kesehatan, hingga terapi anak.
“Kami melindungi anak-anak balita terlantar hingga usia lima tahun. Untuk bayi dari lapas, kami siap memenuhi kebutuhan mulai makanan, terapi, hingga kesehatan,” kata Sri.
Dukungan Pemkab
Kepala Rutan Perempuan Surabaya Yuyun Nurliana menyambut baik dukungan Pemkab Sidoarjo dan Dinas Sosial. Menurut Yuyun, rutan tidak memiliki fasilitas memadai untuk mengasuh bayi apabila ibunya berhalangan.
“Alhamdulillah Ibu Wakil Bupati hadir menyaksikan serah terima ini. Karena di rutan tidak ada fasilitas untuk mengasuh bayi terlebih jika ibunya meninggal. Kerja sama dengan Dinas Sosial sangat membantu,” kata Yuyun.
Dengan penyerahan bayi dan tiga anak lain tersebut, harapannya mereka mendapatkan lingkungan yang lebih aman serta masa depan pendidikan yang lebih terjamin.








