Bandar Lampung (Lampost.co) – Program percepatan pembangunan Koperasi Merah Putih di Provinsi Lampung kini menghadapi sejumlah tantangan teknis. Persoalan kesiapan lahan menjadi kendala utama dalam pelaksanaan program strategis tersebut di lapangan.
Poin Penting
- Kesiapan lahan menjadi tantangan utama percepatan pembangunan Koperasi Merah Putih di Lampung.
- Setiap unit koperasi membutuhkan lahan seluas 1.000 meter persegi untuk fasilitas lengkap.
- Brigjen TNI Sriyanto menekankan pentingnya sinergi antara Pemprov, Pemkab, dan TNI.
- Beberapa lokasi memerlukan pematangan tanah karena menggunakan lahan bekas bangunan lama.
Pentingnya Sinergi Lintas Sektor
Kapok Sahli Pangdam XXI/Raden Inten Brigjen TNI Sriyanto, menegaskan perlunya kerja sama seluruh pihak. Pemerintah daerah, TNI, hingga aparat penegak hukum wajib bergerak searah demi keberhasilan program ini. Tanpa koordinasi yang solid, target percepatan pembangunan akan sangat sulit tercapai.
“Dengan dukungan Pemerintah Provinsi Lampung, Sekda, para bupati, dan sekretaris daerah kabupaten/kota, saya berharap tugas mulia ini dapat kita selesaikan bersama meskipun penuh tantangan,” ujar Sriyanto.
Kebutuhan Lahan Skala Besar
Sriyanto menjelaskan bahwa Koperasi Merah Putih mengusung konsep baru dengan skala yang cukup besar. Oleh karena itu, setiap unit koperasi membutuhkan lahan yang relatif luas untuk menampung berbagai fasilitas. Standar bangunan yang dirancang berukuran 20 x 30 meter pada setiap titik lokasi.
Secara keseluruhan, setiap unit memerlukan lahan seluas 1.000 meter persegi. Area tersebut nantinya mencakup gudang, gerai, kantor, serta fasilitas parkir bagi pengunjung. Kondisi ini membuat pencarian lokasi yang tepat menjadi sangat krusial bagi pemerintah daerah.
Persiapan Teknis Tanah
Saat ini, beberapa lokasi masih memerlukan proses pematangan tanah secara intensif. Sebagian unit koperasi lainnya bahkan direncanakan berdiri di atas lahan bekas pasar atau bangunan lama. Proses persiapan ini membutuhkan waktu dan penanganan khusus agar tidak mengganggu tahapan konstruksi fisik.
Meskipun demikian, Sriyanto menilai tantangan di Lampung masih lebih ringan daripada daerah lain. Hal ini karena beberapa wilayah lain memiliki kendala geografis yang jauh lebih kompleks dan sulit.
“Dengan koordinasi lintas sektor, kami berharap persoalan teknis di lapangan dapat dipetakan secara jelas. Dengan begitu, percepatan pembangunan fisik, gerai, dan pergudangan KDMP di Lampung dapat berjalan sesuai target,” pungkasnya.








